Mengenal Babi Rusa, Hewan Endemik yang Sering Dikira Saudara Babi dan Rusa

Ilustrasi babi rusa (Foter)

Penulis: Tanti Malasari, Editor: Dera - Rabu, 12 Januari 2022 | 20:00 WIB

Sariagri - Banyak yang mengira bahwa babi rusa adalah hewan hasil perkawinan antara babi dan rusa. Namun sebenarnya hubungan keduanya sangat jauh. Namun berdasarkan keragaman genetik menunjukkan bahwa kekerabatan hewan ini ternyata lebih dekat dengan babi dibandingkan rusa. 

Secara taksonomi, hewan ini juga masuk dalam golongan keluarga Suidae. Semua jenis babi ada di dalam sini. Hanya saja, penyebutan rusa pada hewan yang satu ini, dipengaruhi oleh taring atas yang dimilikinya dan menyerupai ranggah atau tanduk seperti yang dimiliki rusa.

Sehari-hari, hewan ini hidup secara berkelompok kecil dengan seekor betina sebagai pemimpinnya (matriarchal). Hal ini adalah trik sebagai antisipasi dalam mempertahankan diri dari sang predator yang datang. Saat musim kawin tiba, sang jantan dewasa yang biasanya hidup soliter, akan bergabung dengan betina dewasa. Ia akan berkelahi dengan sesama jantan untuk menarik perhatian sang betina.

Mereka bukan hewan nocturnal, sehingga untuk menemukannya dapat saja dilakukan saat siang atau malam hari. Mereka juga gemar berendam di aliran sungai atau kubangan. Setelah selesai berkubang, mereka akan menggesekkan badannya pada pangkal batang pohon. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kutu dan mengurangi ketebalan lumpur pada badan.

Asal muasal dan habitat babi rusa

Hewan dengan nama latin Babyrousa ini, merupakan satwa endemik Wallace asli Indonesia. Habitat satwa ini adalah hutan hujan dataran rendah. Mereka menyukai kawasan hutan yang memiliki aliran sungai, sumber air, rawa, dan cerukan-cerukan air yang memungkinkannya mendapatkan air minum dan berkubung. Berikut ini adalah wilayah yang biasa dihuni oleh tiga jenis babi rusa.

Pertama, babi rusa Sulawesi (Babyrousa celebensis) yang bisa ditemui di Pulau Sulawesi. Kedua, babi rusa togean (Babyrousa togeanensis) yang tinggal di beberapa pulau di Kepulauan Togean. Ketiga, adalah babi rusa maluku (Babyrousa babyrussa) yang teridentifikasi tersebar di Kepulauan Sula, yaitu Pulau Mangole, Taliabu, serta Buru.

Ciri-ciri babi rusa

Satwa liar ini memiliki tubuh yang memanjang sekitar 1 meter dengan panjang ekor 273-305 mm. Sementara punggung mereka cenderung agak melengkung, dengan kepala agak kecil, kaki panjang dan ramping tapi kuat, ekor tipis menggantung ke bawah dan warna telinga kehitam-hitaman. Rambutnya tersebar dan pendek di sepanjang tulang belakang dan pada ujung ekor letak rambut-rambut tersebut sedikit berdekatan sehingga bentuk ekor menyerupai kuas. Kulit mereka cukup tebal, keras dan kasar dengan keriput-keriput pada muka, sekeliling telinga dan pada leher.

Cara membedakan yang jantan dan betina yakni dengan melihat keberadaan skrotum. Jika ia memiliki skrotum maka bisa dipastikan itu adalah jantan, sedangkan betina dapat dicirikan dengan kepemilikan vulva. Selain itu, pada jantan terdapat dua gigi taring besar yang mencuat bengkok ke belakang sampai di depan matanya. Sedangkan taring pada betina ukurannya lebih pendek dan tidak tumbuh mecuat keluar.

Baca Juga: Mengenal Babi Rusa, Hewan Endemik yang Sering Dikira Saudara Babi dan Rusa
Masyarakat Adat Kalimantan Ubah Pola Perburuan Babi Berjenggut yang Berakar Lebih dari 40.000 Tahun, Ini Alasannya

Pakan spesies

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh pengamat, jenis pakan hewan ini biasanya dimakan adalah umbi-umbian seperti kilo, tunas globa dan rebung, juga jamur dan buah-buahan seperti mangga dan buah pangi(pangium edule). Namun sesekali mereka juga tampak mengais pepohonan tumbang yang telah membusuk untuk mencari ulat atau cacing.

Hewan yang dilindungi

Di dalam negeri, sesuai dengan Permen LHK Nomor P.106/2018 keberadaannya termasuk sebagai satwa yang dilindungi. Bahkan jika dilihat dari daftar IUCN Red List, hewan jenis ini memiliki risiko terancam punah dengan kategorivulnerable.

Video Terkait