Masyarakat Adat Kalimantan Ubah Pola Perburuan Babi Berjenggut yang Berakar Lebih dari 40.000 Tahun, Ini Alasannya

Babi Berjenggut di Kalimantan yang jadi buruan masyarakat adat. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 15 September 2021 | 15:00 WIB

Sariagri - Selama lebih dari 40.000 tahun, masyarakat adat di Kalimantan telah berburu dan memakan babi berjanggut yang dikenal sebagai hewan nomaden besar berkeliaran di pulau tersebut. Makhluk seberat 100 kg ini merupakan pusat mata pencaharian dan budaya beberapa masyarakat adat Kalimantan.

Tetapi hubungan kuno ini sekarang berada dalam risiko yang serius. Ekspansi kelapa sawit dan urbanisasi memaksa perubahan praktik perburuan di Sabah, negara bagian Malaysia di Kalimantan, demikian kata para ilmuwan yang melakukan penelitian terhadap kehidupan pemburu Adat Kadazandusun-Murut, di mana babi berjanggut adalah hewan buruan favorit.

Industri kelapa sawit telah membuka sebagian besar hutan hujan tropis dataran rendah Kalimantan untuk membuka jalan bagi perkebunan. Pergeseran ke kehidupan yang lebih agraris dan urban menyebabkan jumlah para pemburu menurun.

Berburu merupakan salah satu hubungan manusia-satwa liar yang paling mendasar dan bertahan lama. Namun dinamika yang berubah antara babi Kalimantan dan masyarakat adat merupakan pengingat kuat akan rapuhnya hubungan ini. Ada banyak yang dipertaruhkan saat ini, baik bagi pemburu maupun yang diburu, demikian kata para peneliti seperti dikutip dari theconversation.com.

Kondisi yang berubah

Seperti namanya, babi berjanggut memiliki janggut yang menonjol. Ia adalah spesies besar yang diperkirakan bergerak hingga 650 km jauhnya untuk mencari makanan, dalam kawanan besar yang jumlahnya hingga 300 ekor.

Daging satwa liar termasuk berkontribusi sebanyak 36% dari makanan di masyarakat Pribumi Borneo, dan daging babi berjanggut menyumbang 54-97% dari beratnya. Perburuan babi berjanggut juga merupakan pusat rekreasi, pemberian hadiah, dan praktik sosial di banyak komunitas Adat Borneo.

Tetapi deforestasi yang meluas dan ekspansi pertanian (terutama perkebunan kelapa sawit dan karet) telah secara drastis mengurangi habitat babi berjanggut dalam beberapa dekade terakhir. Babi berjanggut sekarang terdaftar sebagai hewan yang rentan di Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Wilayah Sabah telah berada di garis depan soal booming kelapa sawit sejak akhir abad ke-20. Pada 2015, sekitar 24% dari luas lahannya ditutupi oleh perkebunan kelapa sawit atau kayu pulp.

Penduduk Sabah kini banyak yang bekerja dengan perusahaan kelapa sawit, atau memiliki kebun sawit sendiri. Tapi banyak juga yang pindah ke daerah perkotaan untuk bekerja di bidang manufaktur dan ritel dengan gaji relatif baik.

Perubahan kondisi ini membuat penduduk dan masyarakat adat tak lagi pergi ke ladang dan berburu babi di hutan. Kemampuan mereka untuk berburu pun berangsur-angsur berkurang.

Hasil penelitian

Para peneliti seperti gabungan ilmuwan dari berbagai universitas, yakni dari Australia, Irlandia, Malaysia dan AS, menyelidiki bagaimana perubahan penggunaan lahan hutan untuk perkebunan dan pertanian telah mempengaruhi praktik perburuan babi dari kelompok etnis Kadazandusun-Murut, termasuk 38 wawancara dengan pemburu babi berjanggut.

Penelitian menunjukkan, para pemburu kini mengadaptasi metode baru untuk mengejar babi di dalam perkebunan. Banyak dari mereka kini berburu babi di kebun kelapa sawit, karena selain jalannya lebih mudah, mereka juga bisa menggunakan mobil.

Namun para pemburu juga mengatakan, daging babi dari hutan jauh lebih enak, lebih segar, jika dibandingkan babi makan kelapa sawit, lemaknya tidak terlalu manis.

Perilaku babi juga berubah, babi berjanggut kini "lebih liar", "lebih pintar" dan 'lebih gugup' daripada sebelumnya. Sekarang, Babi bisa mencium bau manusia. Mereka semakin liar karena selalu ditembaki.

Temuan lain juga menemukan perubahan penting dalam pola makan. Masyarakat adat sekarang lebih sering mengonsumsi daging babi berjanggut liar di pedesaan daripada di perkotaan. Mereka juga jarang berburu ketika tinggal di lingkungan perkotaan, karena tidak punya banyak waktu, jarak ke hutan yang jauh, serta sudah kehabisan tenaga karena harus bekerja dan lain-lain.

Namun terlepas dari perubahan substansial dalam praktik perburuan ini, banyak yang tetap sama selama beberapa dekade terakhir. Berburu dengan senjata tetap menjadi teknik utama selama dua generasi terakhir, dan penyediaan daging adalah motivasi utama untuk berburu.

Seorang pemburu mengatakan, berburu sudah menjadi hidup masyarakat adat Kadazandusun-Murut turun temurun. Praktik budaya, seperti menghadiahkan daging untuk acara komunitas, memberikan motivasi tambahan untuk berburu. Beberapa menganggap pernikahan, festival, dan acara gereja tidak lengkap tanpa daging babi berjanggut. Baca Juga: Masyarakat Adat Kalimantan Ubah Pola Perburuan Babi Berjenggut yang Berakar Lebih dari 40.000 Tahun, Ini Alasannya
Studi: 59 Juta Hektar Hutan Direstorasi Sejak Tahun 2000, Tapi...



Tampaknya mereka cukup fleksibel dengan perubahan kondisi alam. Namun, ekspansi kelapa sawit, urbanisasi dan perubahan politik-ekonomi telah mempengaruhi hidup dan budaya mereka. Hilangnya babi berjanggut juga mengikis perayaan tradisional dan pertemuan keluarga, serta merusak warisan praktik berburu adat kuno kepada anak-anak.

Para peneliti berpendapat, inisiatif tata kelola lingkungan harus mendukung tradisi budaya masyarakat Adat Borneo, dan setiap peraturan baru harus dirancang dengan bekerja sama dengan masyarakat lokal, dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Pada saat yang sama, inisiatif ini harus memastikan konservasi jangka panjang populasi babi berjanggut dan habitatnya.

Video Terkait