6 Fakta Burung Kedasih, Kicauannya Dianggap sebagai Penanda Kematian

Burung Kedasih. (Foto: Wikimedia Commons)

Penulis: Putri, Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 17 Juni 2022 | 15:00 WIB

Sariagri - Jika mendengar tentang burung kedasih, tidak lepas dari mitos menyeramkan. Suara burung kedasih dianggap sebagai pertanda kematian.

Burung dengan nama latin Cuculus Merulinus ini memang suara yang menakutkan karena nada monoton yang khas. Tidak hanya pertanda kematian, suaranya dianggap sebagai pertanda malapetaka atau menandakan akan ada yang sakit.

Walaupun suaranya seram, ada beberapa kolektor yang justru menyukainya. Harga burung kedasih beragam, dari Rp250.000 hingga Rp450.000. Meski demikian tidak sedikit juga yang ingin tahu cara mengusir burung kedasih.

Mengutip Birds of India, berikut berbagai fakta tentang kedasih, si burung pemberi pesan kematian.

1. Asal dan Jangkauan Geografi

Burung kedasih tersebar di India, Bangladesh, Bhutan, Myanmar, Cina, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia, Singapura, Indonesia, Filipina, dan Brunei Darussalam.

Spesies ini bisa hidup di ketinggian 0-2.000 meter. Mereka mendiami ekosistem buatan seperti padang rumput, ladang pertanian, pedesaan, kebun dan hutan yang terdegradasi.

Sementara ekosistem alami spesies ini meliputi hutan dataran rendah lembab tropis dan subtropis, hutan terbuka, hutan sekunder, padang rumput kering tropis dan subtropis, hutan hujan dataran rendah, semak kering tropis dan subtropis, hutan rawa dan semak basah tropis dan subtropis.

2. Pola Makanan

Makanan burung kedasih ini sebagian besar adalah serangga. Ulat, kumbang, ngengat, serangga, rayap dan invertebrata lainnya adalah makanan utama mereka.

Untuk itu makanan anakan burung kedasih adalah voer. Voer adalah salah satu makanan pokok atau utama bagi jenis burung kicau. Biasanya yang digunakan adalah voer yang halus dan dicampur dengan sedikit aur serta potongan jangkrik untuk meningkatkan aroma.

3. Disebut sebagai Binatang Licik

Kedasih dikenal sebagai binatang yang licik, mengapa demikian? Burung ini tidak pernah membuat sarang.

Ketika berkembang biak, induk jantan dan betina tidak membuat sarang untuk bertelur. Dengan keadaan seperti itu, kedua sejoli ini juga tidak dapat mengerami telur-telurnya.

Oleh sebab itu, burung ini menitipkan telur ke sarang milik burung-burung lain yang berukuran lebih kecil. Biasanya, burung ini hanya memproduksi dua telur setiap musim kawin.

Pengeraman dilakukan oleh induk betina di sarang burung lain tersebut. Perilaku liciknya tidak hanya di situ saja. Betina burung ini juga kerap membuang telur asli di sarang tumpangannya tersebut.

4. Anak Burung yang Juga Jahat

Dalam penelitian yang dikutip dari berbagai sumber, ada kalanya kedasih yang baru menetas akan membuang telur asli di sarang yang mereka tumpangi.

Kelicikan pun tidak cukup sampai di situ. Ketika telur kedasih menetas, induk burung yang ditumpangi diperbudak anakan kedasih untuk terus memberi makan hingga tubuh mereka lebih besar dari induk sarang asli, sehingga mereka bisa menguasai sarang itu sepenuhnya.

5. Suara Kedasih Berbahaya

Beberapa kolektor hewan peliharaan unggas menghindari memelihara kedasih bersamaan dengan burung lain. Hal tersebut dikarenakan suaranya dapat merusak kicauan burung lain yang akhirnya menurunkan harga jual.

Selain itu, biasanya kedasih tidak hidup bersama-sama. Berbeda dengan burung lainnya hidup secara berkelompok. Ketika masa perkawinan, burung betina akan bernyanyi dengan suara khasnya.

Baca Juga: 6 Fakta Burung Kedasih, Kicauannya Dianggap sebagai Penanda Kematian
Fakta Burung Unta, Tidak Bisa Terbang namun Berlari Cepat

Suara tersebut ditakuti masyarakat karena sering dikaitkan dengan tanda kematian. Padahal nyanyian tersebut adalah untuk menarik perhatian sang jantan.

6. Memiliki Beberapa Julukan

Kedasih memiliki banyak nama panggilan, sebutannya tergantung di mana daerah burung itu berada. Dalam bahasa Sunda, kedasih disebut Cirit uncuing. Dalam bahasa Jawa disebut Emprit gantil dan dalam bahasa Inggris disebut Paintive cuckoo.

Video Terkait