Miris! Di Nigeria, Jumlah Penebang Liar Lebih Banyak dari Pohon

Ilustrasi hutan. (Foto: Unsplash)

Editor: Putri - Rabu, 8 Juni 2022 | 18:50 WIB

Sariagri - Dari 2001 hingga 2021, Nigeria kehilangan 1,14 juta hektare tutupan pohon, setara dengan penurunan 11 persen tutupan pohon sejak 2000 dan setara dengan 587 juta ton emisi karbondioksida. Hal tersebut disampaikan Global Forest Watch, sebuah organisasi yang menyediakan data dan memantau hutan.

Presiden Nigeria Muhammadu Buhari pada pertemuan COP15 di Abidjan, Pantai Gading, pada 9 Mei 2022, mengatakan bahwa Nigeria telah membentuk dana perwalian kehutanan nasional untuk membantu regenerasi hutan negara. Namun sayang negara ini kehilangan hutan lebih cepat.

“Melindungi hutan berarti melindungi diri kita sendiri. Ketika kita menghancurkan hutan, kita menghancurkan umat manusia,” kata Femi Obadun, direktur pengelolaan hutan untuk Kementerian Pertanian negara bagian Ondo, Nigeria.

Mencegah adanya penggundulan terbilang sulit di Nigeria. Banyak dari masyarakatnya menjadikan hutan sebagai sumber mata pencahariannya. Mereka menebang pohon, kemudian menjual kayunya.

Selain menjual kayu, mereka menebang pohon untuk membuka lahan pertanian atau untuk memenuhi permintaan bahan bakar untuk populasi Nigeria yang terus berkembang. Hal tersebut memberikan tekanan pada hutan alam Nigeria.

Sebagai gambarannya, mengutip Reuters, terdapat kisah tentang seorang warga Nigeria yang menggantungkan nasibnya dengan menebang pohon di hutan.

Jauh di dalam hutan di Desa Ebute Ipare, Nigeria, seseorang bernama Egbontoluwa Marigi mengukur sebatang pohon mahoni, kemudian menebangnya dengan kapak dan parangnya. Saat pohon itu tumbang dengan suara berderak, dia mengamati hutan untuk mencari pohon berikutnya.

Di sekelilingnya, tunggul-tunggul yang menghiasi hutan rawa adalah pengingat pohon-pohon yang pernah berdiri tegak tetapi dengan cepat menghilang karena penebangan liar di negara bagian Ondo, Nigeria barat daya.

“Kami bisa menebang lebih dari 15 pohon di satu lokasi, tetapi sekarang jika kami berhasil melihat dua pohon, itu seperti berkah bagi kami,” kata ayah dua anak berusia 61 tahun itu.

Setelah menebang pohon, Marigi membubuhkan spidol di atasnya, sebuah pesan kepada penebang lain bahwa dialah pemiliknya. Kayu-kayu tersebut akan diangkut melalui anak sungai dan sungai sampai ke ibukota komersial Nigeria, Lagos.

“Pada zaman nenek moyang kami, kami memiliki pohon-pohon besar tetapi sayangnya yang kami miliki sekarang hanyalah pohon-pohon kecil dan kami bahkan tidak membiarkannya menjadi dewasa sebelum kami menebangnya,” ujar Marigi.

Berbulan-bulan setelah menebang pohon, Marigi kembali ke hutan untuk menarik kayu gelondongan dan mengikatnya menjadi rakit. Dia memiliki koleksi lebih dari 40 log.

Dengan penebang lain, mereka mengumpulkan uang untuk menyewa kapal untuk menarik rakit melalui anak sungai dan sungai dari negara bagian Ondo ke Lagos.

Baca Juga: Miris! Di Nigeria, Jumlah Penebang Liar Lebih Banyak dari Pohon
Hari Hutan Internasional 2021: Restorasi Hutan Pulihkan Kesehatan

Tempat perlindungan sementara di rakit terbuat dari kayu dan membantu melindungi Marigi dan teman-temannya dari berbagai cuaca. Makanan dibagikan saat mereka menyanyikan lagu-lagu daerah setempat untuk membangkitkan semangat.

"Kami tidak tidur di malam hari selama perjalanan. Kami memantau kayu gelondongan dan memastikan (tidak) terlepas dari kapal," kata Marigi.

Video Terkait