Temuan Dugaan Pencemaran Sungai Cimeta Ditindaklanjuti DLH-Satgas Citarum

Petugas KLHK menunjukkan dua sampel sumber pencemaran air sungai. (Antara/HO-Humas Satgas Citarum)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 1 Juni 2022 | 20:10 WIB

Temuan dugaan pencemaran air Sungai Cimeta, anak Sungai Citarum ditindaklanjuti Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Satuan Tugas Citarum Harum, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan DLH Kabupaten Bandung Barat.

Sariagri - "Menindaklanjuti hasil temuan lapangan hari sebelumnya, kami melakukan tindakan pulbaket atau pengumpulan bahan dan keterangan serta susur sungai lanjutan," ujar Kepala Bidang Penaatan Hukum Lingkungan DLH Jabar Arif Budhiyanto di kawasan Desa Tagog Apu di Bandung, Rabu (1/6/2022).

Keempat pihak berkolaborasi mengidentifikasi asal muasal zat warna yang sempat menggegerkan masyarakat di sepanjang subdaerah aliran Sungai Cimeta di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Beberapa orang telah diperiksa pihak berwajib dengan mengarah pada dugaan tindakan pidana. Mereka dalam penanganan Polresta Cimahi dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Lingkungan Hidup.

Baca Juga: Temuan Dugaan Pencemaran Sungai Cimeta Ditindaklanjuti DLH-Satgas Citarum
Kasus Teluk Bima, Wilayah Tangkap Nelayan Tidak Bisa Bersinggungan Industri

Kondisi Sungai Cimeta yang sempat memerah kini sudah normal. Berdasarkan keterangan warga dan aparat setempat dalam kurun waktu dua jam warna sungai kembali seperti semula.

Arif mengatakan pada video yang beredar di masyarakat dan sejumlah akun media sosial, sumber pencemaran berasal dari zat pewarna dibungkus kantong plastik dengan kapasitas kurang lebih 30 kg dan ditemukan warga di aliran Sungai Cimeta.

Setelah ditelusuri pada pulbaket tersebut diketahui seorang warga setempat yang melakukan pembuangan langsung barang itu ke sungai atas perintah seorang warga lainnya.

"Kami mengumpulkan keterangan dari dua orang warga setempat tersebut. Pelaku pembuang mengakui membuang sumber pencemar dari bahu jalan ke sungai atas perintah seorang warga lainnya," katanya.

Latar belakang pembuangan sumber pencemaran adalah inisiatif warga yang menyuruh pelaku karena banyaknya keluhan warga sekitar akibat material pencemar. Namun mereka berdua tidak mengetahui isi kantong plastik itu.

"Mereka juga tidak mengetahui asal-usul kantong yang berisi material pencemaran," katanya.

Selain meminta keterangan dua warga, pihaknya mengambil barang bukti kantong berisi material pencemar lalu diserahkan ke DLH Jabar untuk diuji laboratorium. Hasil susur sungai tidak ditemukan dampak sisa pencemaran dan keluhan masyarakat.

"Selanjutnya akan dilakukan proses hukum lebih lanjut terkait pemenuhan unsur-unsur hukum pidana dan penetapan tersangka serta pengembangan kasus, akan dilakukan pemeriksaan lanjutan terhadap dua warga setempat yang dilakukan secara kolaboratif antara DLH Jabar dan DLH KBB (Kabupaten Bandung Barat)," katanya.

Arif menambahkan hasil pemeriksaan lanjutan akan menjadi dasar penetapan tersangka setelah melalui gelar perkara sesuai mekanisme hukum acara pidana.

Dia menambahkan upaya pengusutan pencemaran akan terus dilakukan agar tidak ada kasus serupa pada masa mendatang.
 

Video Terkait