Penyelundupan Burung Dilindungi Terus Terjadi, Kurir Sopir Truk Ditangkap

Petugas memeriksa kandang burung yang dilindungi. (Sariagri/Iwan K)

Editor: M Kautsar - Minggu, 29 Mei 2022 | 15:00 WIB

Sariagri - Seperti tak ada takutnya lagi dengan razia rutin yang digelar petugas keamanan di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, penyelundupan burung endemik dan burung dilindungi terus terjadi.

Modus penyelundup pun bervariasi, namun rata-rata mereka membayar sopir truk sebagai kurir untuk menyelundupkannya dari Pulau Sumatra ke Pulau Jawa.

Seperti pada Kamis (26/5/2022) siang, personel Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan atau KSKP Bakauheni kembali menggagalkan penyelundupan ratusan ekor burung ke Pulau Jawa. Polisi menangkap seorang tersangka kurir yakni sopir truk bernama Joni.

“Tersangka mengaku dibayar seorang dari Palembang, Sumatra Selatan untuk mengantarkan ratusan burung itu ke wilayah Cikupa,” ungkap Kepala KSKP Bakauheni AKP Ridho Rafikai.

Total polisi menyita 643 satwa burung berbagai jenis, baik yang endemik maupun dilindungi. Jenis-jenisnya antara lain yakni burung Jalak Kebo, Crocok, dan Poksai.

Sementara 28 lainnya adalah jenis burung dilindungi seperti Kinoi dan Cucak Ranting dan Srindit. Burung-burung itu dibawa dengan kotak kardus dan plastik, dan disembunyikan di bagian samping serta ruang kabin mobil.

Ratusan burung itu langsung diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung untuk diurus sebelum dilepasliarkan.

“Kami akan segera lepasliarkan burung yang kondisinya sudah sehat,” ungkap Suhairul, petugas dari BKSDA Bengkulu-Lampung usai penyerahan dari pihak KSKP.

Sebab, lanjut Suhairul, saat ditemukan ratusan burung kondisinya banyak yang lemah bahkan belasan burung sudah mati.

Tersangka sendiri mengaku sudah tiga kali menyelundupkan burung dilindungi ke Pulau Jawa, dan polisi masih mencari identitas penyelundup serta pemesannya.

Polisi juga menyita satu mobil truk dan menjerat tersangka dengan Pasal 88 Tahun 1990 Undang-undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.