Laporan Khusus: Fenomena Cuaca Panas yang Melanda Tanah Air

Ilustrasi fenomena cuaca panas (Sariagri / Faisal Fadly)

Editor: Tanti Malasari - Jumat, 20 Mei 2022 | 16:00 WIB

Sariagri - Beberapa waktu belakangan ini, cuaca panas dan terik tengah melanda wilayah Indonesia. Suhu panas ekstrem ini dirasakan masyarakat khususnya saat menjelang hingga momen lebaran tiba.

Selain siang hari, ternyata cuaca panas juga berlangsung selama sehari penuh sehingga membuat aktifitas menjadi tidak nyaman. Akibatnya tidak sedikit masyarakat yang mengeluhkan kondisi ini.

Koordinator Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Miming Saepudin menjelaskan, berdasarkan data hasil pengamatan BMKG pada 1-7 Mei suhu udara rata-rata di Indonesia berkisar diantara 33 sampai 36,10 Celcius.

“Data pengamatan suhu udara permukaan BMKG tanggal 1 - 12 Mei 2022 mencatat suhu maksimum sebesar 36.4ᵒC di Tanjung Perak-Surabaya pada 12 Mei 2022, disusul oleh wilayah Kalimarau-Kalimantan Utara sebesar 36.1ᵒC pada tanggal 3 Mei 2022, dan wilayah Ciputat-Tangerang Selatan serta Sanggu-Barito Selatan sebesar 36ᵒC pada tanggal 6, 8, 9, dan 10 Mei 2022," ujar Miming dalam keterangan tertulis kepada Sariagri.

Sebagai gambaran, berikut ini catatan suhu tertinggi yang diamati BMKG pada periode 15 Mei 2022 pukul 07.00 WIB sampai dengan 16 Mei pukul 07.00 WIB, dilansir dari instagram @infobmkg:

Ilustrasi peta wilayah suhu tertinggi (Sariagri / Faisal Fadly)
Ilustrasi peta wilayah suhu tertinggi (Sariagri / Faisal Fadly)

Meskipun dirasa sudah sangat panas, namun ternyata suhu ini belum memecahkan rekor suhu tertinggi yang sudah pernah dialami Indonesia sebelumnya.

Berikut daftar suhu terpanas yang pernah terjadi di Indonesia:

1. Larantuka 40°C

Pada 2012, Larantuka, Flores Timur, mengalami suhu panas tertinggi di Indonesia yang mencapai 40°C.

2. Samarinda 38,8°C

Pada 2018, menurut data BMKG, suhu terpanas terjadi di Samarinda.

3. Palembang, 38,8°C

Selain Smarinda, pada 2018 Palembang juga menjadi salah satu kota dengan suhu terpanas di Indonesia.

4. Palu, 37°C

Pada 21 Januari 2020, berdasarkan pengukuran BMKG, Palu menjadi kota dengan suhu udara maksimum tertinggi di Indonesia. BMKG mencatat, suhu di Kota Palu mencapai 37°C.

5. Surabaya, 36°C

Surabaya pernah menjadi kota dengan suhu terpanas di Indonesia. Pada 25 Agustus 2021, suhu di Surabaya mencapai 36°C.

Bukan akibat gelombang panas

Banyak argumen masyarakat yang menyebutkan bahwa suhu panas yang dirasakan di Indonesia ini adalah akibat gelombang panas atau heat wave.

Namun BMKG menampik, bahwa suhu panas terik yang terjadi di wilayah Indonesia belakangan ini bukan merupakan fenomena gelombang panas.

“Suhu panas terik di Indonesia bukan gelombang panas,” katanya.

Sementara terminology gelombang panas atau heat wave menurut World Meteorological Organization (WMO), adalah kondisi udara panas yang berkepanjangan selama minimal lima hari atau lebih secara berturut-turut.

Dalam fenomena ini suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5 derajat Celcius atau lebih.

Selain itu fenomena gelombang panas biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah Eropa dan Amerika yang dipicu oleh kondisi dinamika atmosfer di lintang menengah.

Sedangkan yang terjadi di wilayah Indonesia adalah fenomena kondisi suhu panas atau terik dalam skala variabilitas harian.

Analisis BMKG soal pemicu cuaca panas

Ilustrasi pemicu cuaca panas (Sariagri Faisal Fadly)
Ilustrasi pemicu cuaca panas (Sariagri Faisal Fadly)

Lantas apa pemicu cuaca panas saat ini? Terkait fenomena cuaca panas, Miming menjelaskan ada beberapa faktor dibalik cuaca panas di wilayah Indonesia, yaitu:

1. Siklus Tahunan

Miming menyebutkan fenomena suhu yang cukup panas di wilayah Indonesia sebenarnya merupakan suatu siklus tahunan yang kerap terjadi pada periode tertentu.

Berdasarkan data pegamatan suhu bulanan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia yang secara geografis berada di wilayah selatan ekuator (terutama wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara) memiliki periode suhu yang relatif lebih panas pada periode bulan April-Mei dan Oktober-Nopember.

Periode tersebut dikenal dengan periode peralihan musim (baik dari kemarau ke penghujan maupun sebaliknya).

2. Posisi matahari di wilayah utara ekuator

Posisi semu matahari saat ini sudah berada di wilayah utara ekuator. Posisi ini menurutnya menjadi salah satu indikasi bahwa sebagian wilayah Indonesia akan mulai memasuki puncak musim kemarau.

"Saat ini posisi semua matahari sudah berada agak ke wilayah Utara ekuator, atau sekitar lintang 140 Lintang Utara dan masih bergerak ke Utara hingga bulan Juni mendatang,” kata Miming.

Hal ini menjadi pertanda jika tingkat pertumbuhan awan dan fenomena hujan juga sangat berkurang, sehingga cuaca cerah pada pagi menjelang siang hari akan cukup mendominasi.

“Sementara, sebagian besar wilayah Indonesia, terutama wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara dan wilayah Indonesia yang berada di Selatan ekuator pada periode April-Mei masih mengalami periode peralihan musim hujan ke kemarau (pancaroba). Sedangkan sebagian lainnya masih ada yang mengalami periode basah atau hujan," katanya lagi dalam keterangan tertulis pada 16 Mei 2022.

3. Dominasi cuaca cerah

Selain itu umumnya periode pancaroba atau menjelang musim kemarau, kondisi cuaca terutama pada pagi hari didominasi dengan kondisi cerah dan tingkat perawanan yang rendah.

Kondisi ini dapat mengoptimumkan penerimaan sinar matahari di permukaan bumi, sehingga menyebabkan terjadinya suhu yang dirasakan oleh masyarakat menjadi cukup panas dan terik pada siang hari, lalu pada siang-sore hari akan terbentuk awan-awan tebal.

"Kondisi ini kerap terjadi pada periode peralihan, di mana umumnya kondisi cuaca akan ditandai dengan cuaca cerah di pagi hari dan berawan di siang hari dengan potensi hujan yang disertai kilat atau petir," tutur Miming.

4. Kondisi lingkungan

Kondisi lingkungan sekitar juga berpengaruh terhadap kondisi suhu maksimum suatu wilayah, dimana wilayah dengan tutupan lahan yang lebih didominasi oleh bangunan atau area dengan tingkat pepohonan yang sangat kurang, maka cenderung akan memiliki suhu maksimum yang cukup signifikan.

5. Periode pancaroba

Miming menjelaskan bahwa cuaca panas dan terik di wilayah Indonesia yang terjadi saat ini merupakan variabilitas musiman sebagai tanda peralihan musim atau pancaroba, yang umum terjadi dan berulang setiap tahun sebagai fungsi gerak semu tahunan matahari dan faktor lainnya.

Ketika periode pancaroba kondisi kelembapan relatif cukup tinggi, sehingga kondisi suhu panas yang terjadi dapat disertai juga dengan kondisi udara yang cukup gerah.

Untuk analisis dampak dari adanya pemasanasan global maka diperlukan analisis dengan menggunakan data yang sangat panjang (puluhan hingga ratusan tahun).

Cuaca panas global

Menurut catatan WMO, secara garis besar negara Asia mengalami suhu terpanas pada 2020 dengan peningkatan rata-rata 1,390 Celcius dibandingkan kurun waktu 1981-2010.

Bahkan suhu terpanas hingga 380 Celsius pada 2020 juga tercatat di Kota Verkhoyanks, Rusia. Itu adalah suhu tertinggi yang pernah tercatat di wilayah Lingkaran Arktik.

Ilustrasi kenaikan suhu rata-rata di dunia (Climate.gov)
Ilustrasi kenaikan suhu rata-rata di dunia (Climate.gov)

Selain Indonesia, fenomena cuaca panas juga dapat diamati di belahan bumi lainnya seperti wilayah India, Pakistan, dan beberapa wilayah di Amerika.

Parahnya lagi, suhu panas yang dirasakan masyarakat di Indonesia belum sebanding dibandingkan negara-negara tersebut. Namun kondisi ini umumnya terjadi karena gerak semu tahunan matahari yang berada di belahan bumi utara dan menyebabkan musim panas pada wilayah dengan empat musim.

Pada negara yang berada pada lintang menengah-tinggi, gelombang suhu udara panas umumnya terjadi akibat wilayah bertekanan udara tinggi (high pressure area) di atmosfer menekan udara hangat ke permukaan sehingga menjadi terkompresi dan lebih hangat.

Hal ini dapat menyebabkan peningkatan suhu udara hingga 5 ᵒC selama lebih dari 5 hari yang biasa disebut gelombang panas (heatwave).

Kondisi ini berbeda dari wilayah tropis (Indonesia) yang suhu udaranya masih berada dalam rentang normal, bahkan lebih rendah jika dibandingkan tahun 2018-2019 yang mencapai 38.8 ᵒC.

Negara-negara yang tengah mengalami cuaca ekstrem:

1. India

Menurut Departemen Meteorologi India, gelombang panas tanpa henti mengakibatkan beberapa bagian di New Delhi di mengalami suhu hingga 48,8 derajat Celsius pada Senin 16 Mei 2022.

Menurut beberapa sumber berita bahkan menyebutkan bahwa suhu panas yang terjadi di India pada bulan Maret-April lalu, merupakan suhu yang mencapai titik tertinggi dalam 122 tahun terakhir

Akibat gelombang panas ini, tempat pembuangan tempat sambah yang berada di Bhalswa terbakar. Tempat pembuangan itu lebih tinggi dari gedung 17 lantai dan lebih besar dari 50 lapangan sepak bola.

2. Pakistan

Gelombang panas juga dirasakan di seluruh Pakistan dan menciptakan krisis kesehatan besar. Salah satu kota di Pakistan, Jacobabad. Dikutip dari The Guardian, suhu panas ekstrem tertinggi di Pakistan tercatat di Kota Jacobabad yang mencapai 510 Celcius pada Sabtu 14 Mei 2022. Suhu ini merupakan suhu tertinggi selama 61 tahun terakhir untuk wilayah Pakistan.

Otoritas kesehatan di Pakistan mengatakan banyak petugas lalu lintas dan masyarakat biasa yang terpapar sinar matahari mengalami sakit ginjal akut karena dehidrasi. Mereka dibawa ke berbagai fasilitas kesehatan.

Direktur Gambat Institute of Medical Sciences (GIMS) Dr Rahim Bux Bhatti mengatakan bahwa banyak juga pasien yang mengalami gastroenteritis akut dan gejala heatstroke karena paparan sinar matahari yang lama.

3. Amerika Selatan

Pada pertengahan Januari 2022, negara-negara di Amerika Selatan telah mencatat rekor suhu tinggi. Banyak ibu kota telah mencatat suhu tertinggi sejak pencatatan dimulai, dengan beberapa zona memanas hingga 45 derajat Celsius.

Cuaca panas diprediksi hingga akhir bulan Mei

BMKG memprediksi bahwa kondisi suhu yang cukup panas dan terik saat ini masih perlu di waspadai hingga akhir Bulan Mei 2022 ini.

Oleh karena itu, BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga kondisi stamina tubuh dan kecukupan cairan tubuh terutama bagi warga yang beraktifitas di luar ruangan pada siang hari supaya tidak terjadi dehidrasi, kelelahan dan dampak buruk lainnya.

Waspada bahaya yang mengintai akibat cuaca panas

Ilustrasi waspada cuaca panas (Sariagri / Faisal Fadly)
Ilustrasi waspada cuaca panas (Sariagri / Faisal Fadly)

Selain membuat rasa tidak nyaman, peningkatan suhu di sejumlah wilayah ini ternyata juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental. Akibatnya seseorang akan menjadi lebih sensitif, mudah marah dan kehilangan konsentrasi untuk bekerja. Adapun bahaya yang harus diwaspadai, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Dehidrasi

Tubuh yang berhadap dengan suhu yang panas umumnya akan lebih banyak mengeluarkan cairan. Adapun cairan yang keluar biasanya mengandung mineral penting seperti natrium dan kalium sehingga tubuh akan lebih mudah mengalami dehidrasi.

Kondisi dehidrasi akan menyebabkan tubuh merasa lebih lebih haus, kekeringan pada bibir dan lidah dan buang air kecil lebih sedikit dari biasanya.

Untuk mengatasi kondisi ini, cobalah untuk beralih ke tempat sejuk dan perbanyak minum air putih agar mengganti cairan tubuh yang hilang,

2. Sengatan Panas (Heat Stroke)

Sengatan panas atau heatstroke adalah kondisi tubuh yang terjadi akibat peningkatan suhu secara dramatis dalam waktu cepat atau saat kepanasan hebat akibat sengatan matahari di luar batas toleransi tubuh.

Sengatan panas dapat terjadi tanpa kondisi awal yang berhubungan dengan panas atau kepanasan sebelumnya, seperti kelelahan.

Langkah pencegahan yang bisa dilakukan yaitu dengan mengenakan pakaian dan pelindung seperti topi dan payung.

3. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)

Cuaca dan suhu udara yang tinggi juga memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan, hingga mengancam sektor perekonomian.

Hal ini juga diungkap oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Ia mengatakan Indonesia adalah salah satu negara yang berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan.

Baca Juga: Laporan Khusus: Fenomena Cuaca Panas yang Melanda Tanah Air
BMKG: Potensi Kebakaran Lahan dan Hutan Mengancam NTT

"Climate economic index itu juga menunjukan, Indonesia adalah yang sangat rentan masuk dalam musim kemarau nanti. Risiko kebakaran hutan kembali mengintip ataupun perlu kita waspadai," ujarnya Airlangga.

Oleh karena itu, kita sebagai warga negara yang baik hendaknya turut andil dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan, salah satunya dengan tidak membuang putung rokok atau membakar sampah sembarangan dekat dengan area perhutanan.


Reporter: Rashif Usman

Riset infografis: Putri Ainur Islam

Infografis: Faisal Fadly

Video Terkait