Musim Kemarau, KLHK Minta Semua Pihak Waspadai Kebakaran Hutan

Ilustrasi Kebakaran Hutan. (Pixabay)

Editor: Dera - Kamis, 19 Mei 2022 | 20:10 WIB

Sariagri - Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong meminta seluruh pihak agar mewaspadai ancaman kebakaran lahan dan hutan terutama di saat musim kemarau.

"Kebakaran gambut ini sangat sulit penanganannya karena dia baru bisa padam setelah mendekati permukaan air, yang berbahaya itu underground fire, dia akan berhenti ketika menjumpai muka air," kata Alue Dohong saat meninjau lokasi kegiatan restorasi gambut bersama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) di Kota Dumai, Riau, Kamis (19/5). 

Menùrut dia, bara api di bawah permukaan lahan itulah yang menjadi sumber asap yang menyerang mata dan sistem pernapasan manusia.

Oleh karena itu, lanjutnya, pencegahan menjadi jalan utama untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau. Alue mengingatkan untuk waspada bila sudah seminggu atau dua minggu hujan tak turun. Bila ditemukan titik api, diperlukan pula pemadaman segera oleh Satgas Karhutla.

Selain itu, diperlukan imbauan kepada semua pihak khususnya saat musim kemarau, untuk tidak gegabah dengan api sekecil apapun. Salah satunya membuang puntung rokok sembarangan.

"Tindakan lainnya yaitu dengan menjaga infrastruktur gambut yang ada, sumur bor dicek lagi dan sekat kanal harus terus dilakukan untuk menjaga muka air setinggi mungkin pada musim kemarau. Dengan begitu gambut akan tetap basah dan lembab sehingga potensi kebakaran bisa dicegah," terang Alue.

Ia melanjutkan isu lingkungan paling utama yaitu bagaimana memulihkan lingkungan hidup lewat kegiatan pemulihan gambut dan mangrove dalam rangka pengendalian iklim.

Tematik isunya yaitu bagaimana Indonesia menjadi contoh kegiatan penanganan iklim lewat pencegahan degradasi gambut karena kebakaran.

"Caranya dengan memperbanyak sekat kanal sebab yang sering terjadi kebakaran itu lahan gambut yang tak ada sekat kanalnya. Pada saat kemarau masalah utama adalah tak ada air untuk pemadaman di hutan, sumber air tak ada. Dengan ada sekat kanal, maka air bisa didapatkan dipakai sebagai sumber air untuk pemadaman," katanya.

Restorasi gambut di Provinsi Riau telah menjadi prioritas utama bagi Pemerintah RI sejak terjadinya bencana karhutla pada 2015.

Sejak 2021, upaya restorasi gambut di Riau dilanjutkan dengan pembangunan 130 unit sekat kanal serta penimbunan lima kanal untuk menjaga gambut agar tetap basah. Selain itu, juga dilakukan revegetasi seluas 90 hektare dan pemberian bantuan paket revitalisasi ekonomi sebanyak 61 paket pada lima kabupaten/kota di Riau.

Baca Juga: Musim Kemarau, KLHK Minta Semua Pihak Waspadai Kebakaran Hutan
Bumi Makin Panas, Pemerintah Waspada Ancaman Karhutla

Wakil Menteri LHK Alue Dohong menyebutkan gambut merupakan harta karun Indonesia. Indonesia menjadi negara dengan gambut terluas di dunia, yaitu 15 juta hektare.

Disebutkannya, gambut asli yang berupa vegetasi juga mengandung 90 persen air dan kaya akan karbon di dalamnya. Namun bila lahan gambut terus dibuka dan dikecilkan vegetasinya, maka akan berakibat kandungan air di dalamnya terus menurun. Hal itu yang menyebabkan kekeringan dan menjadikannya bahan yang mudah terbakar.

Video Terkait