Sampah Plastik Tutupi Pohon di Sekitar Sungai Ciliwung

Tim ekspedisi menemukan tumpukan sampah di sekitar Sungai Ciliwung. (Aliansi Zero Waste)

Editor: M Kautsar - Senin, 16 Mei 2022 | 16:10 WIB

Dengan menggunakan dua perahu karet dan 12 orang personel, Komunitas Ciliwung, Tim Ekspedisi Sungai Nusantara, dan Water Witness menemukan 1.332 pohon yang terlilit sampah plastik.

“Komunitas Ciliwung Saung Bambon, Ciliwung Institute dan Komunitas Ciliwung Kedung Sahong bersama tim Ekspedisi Sungai Nusantara dan Water Witness menginisiasi kegiatan ekspedisi Susur Ciliwung sepanjang 12 Kilometer untuk mengidentifikasi sumber-sumber kontaminasi mikroplastik yang mencemari Ciliwung,” ungkap Asun Sudirman, peneliti senior Ciliwung Institut. 

Asun menyatakan bahwa temuan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ecoton) pada tahun 2021 menyebutkan kontaminasi mikroplastik sebanyak 146 partikel mikroplastik dalam setiap 100 liter air Ciliwung. “Namun tidak dijelaskan sumber-sumber yang menyebabkan timbulnya mikroplastik di Ciliwung,” kata dia. 

Tim ekspedisi menemukan plastik-plastik terlilit dan menumpuk di dahan-dahan bambu, pohon loh atau loa, pohon cempedak, Pohon jambu kopo, Rengas dan semak-semak alang-alang disepajang bantaran ciliwung.

“Ciliwung adalah Sungai Nasional yang melintasi 2 provinsi, Bersumber di Jawa Barat dan Bermuara di DKI Jakarta. Namun sepanjang penyusuran Ciliwung seolah menjadi tempat buangan sampah plastik dan buangan limbah rumah tangga dan toilet sehingga sebagian besar sungainya menimbulkan bau kotoran manusia,” ungkap Daru Setyorini, peneliti lingkungan dan manager program Ecoton.

“Tahun 2023 PAM Jaya akan menggunakan Ciliwung sebagai bahan baku PDAM, ancaman mikroplastik, logam berat dan senyawa pengganggu hormone, limbah pertanian dan obat-obatan akan menjadi ancaman serius jika pemerintah tidak mengendalian sumber-sumber pencemaran yang saat ini tidak terkontrol,” ucap dia.

Sementara itu, Managing Director Water Witness, Nick Hepworth mengatakan bahwa sama seperti kota-kota besar di dunia yang masih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi, pendidikan dan kesehatan Indonesia masih mengabaikan penanganan problem sungai."Sehingga kita bisa melihat sungai di ibukota Indonesia ini masih kotor dan penuh dengan sampah plastik,” ungkap Nick Hepworth, lebih lanjut Managing Director Water Witness yang berkantor di Edinburg Inggris ini merasa prihatin melihat kondisi sungai Ciliwung yang menyedihkan.

Dalam ekpedisi susur Ciliwung pada Minggu (15/5/2022) tim ini mencari tahu mencari tahu kualitas air Ciliwung. Dari penelusuran ini, temuan sampah plastik berupa kantong plastik, pakaian bekas, styrofoam, dan kemasan sachet masih mendominasi.

Jenis sampah sachet yang ditemukan dihasilkan oleh produk dari perusahaan multinasional seperti Unilever, Danone, Nestle dan Unicharm serta produk local seperti Wings, Mayora, Garudafood, orangtua, siantar top dan brand-brand local yang memproduksi personal care dan household product.

“Selain tanggung jawab pemerintah untuk memprioritaskan pengendalian sampah yang masuk ke badan air, Produsen yang menghasilkan sampah sulit didaur ulang harus ikut membersihkan sampah yang mereka hasilkan dan mencemari Ciliwung, mereka punya kewajiban EPR atau Extended Producer Responsibility yang diatur dalam undang-undang pengelolaan sampah Nomer 18 tahun 2008 pasal 15,” ungkap Daru.

Sampah jenis sachet termasuk dalam kategori sampah residu karena packaging multilayer ini tidak bisa didaur ulang karena bahannya dari beragam jenis plastik sehingga sulit didaur ulang. “Umumnya sampah sachet akan berakhir di sungai mengalir kelaut atau dibakar, padahal membakar plastik akan menimbulkan dioksin dan furan yang bersifat karsinogen” ujar Daru Setyorini.

Video Terkait