Dorong Pendapatan, Lembaga Desa Hutan Bisa Kembangkan Agrowisata

Sejumlah wisatawan menikmati keindahan Curug Bayan yang dikelola LMDH Gempita, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. (Antara)

Editor: M Kautsar - Kamis, 12 Mei 2022 | 16:50 WIB

Sariagri - Kelompok Kerja (Pokja) Perhutanan Sosial Wilayah Jawa Tengah mendorong lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) untuk mengembangkan potensi wisata berbasis alam seperti yang dilakukan LMDH Gempita di Desa Ketenger, Kabupaten Banyumas.

"Pengembangan usaha ekonomi masyarakat desa hutan berbasis wisata alam sangat besar manfaatnya. Hal itu telah ditunjukkan oleh LMDH Gempita," kata anggota Pokja Perhutanan Sosial Wilayah Jateng, Sungging Septivianto, di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis.

Ia mengatakan, sejak mendapat izin Perhutanan Sosial dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) pada tahun 2020, LMDH Gempita terus menunjukkan kinerja positif dalam mengelola hutan.

Bahkan saat sekarang, kata dia, LMDH Gempita beserta 9 LMDH lainnya di lereng selatan Gunung Slamet telah mempersiapkan diri untuk mengimplementasikan kebijakan Menteri LHK tentang Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK).

"Itu ditujukan agar kewenangan desa dan kelompok masyarakat dalam melindungi dan memanfaatkan hutan secara lestari dapat ditingkatkan," kata Sungging.

Sementara itu, Ketua LMDH Gempita Purnomo mengatakan pihaknya hingga saat ini mengembangkan dua destinasi wisata alam di Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Banyumas, yakni Curug Jenggala yang dibuka sejak tahun 2017 dan Curug Bayan sejak awal April 2022.

Menurut dia, dua destinasi wisata alam tersebut ramai dikunjungi wisatawan termasuk saat momentum Lebaran 2022 yang tercatat lebih dari 4.500 pengunjung.

"Kami senang dan merasa bersyukur, masyarakat khususnya para pemudik bisa datang ke tempat kami untuk berlibur. Mengingat kondisi ekonomi masyarakat belum terlalu pulih pascapandemi COVID-19, kami tidak menetapkan tarif mahal untuk masuk, hanya Rp10.000 per orang," katanya.

Ia mengatakan pihaknya juga berupaya memberikan kenyamanan bagi wisatawan dengan menyediakan berbagai fasilitas seperti "selfie deck" (tempat berswafoto, red.), mushalla, toilet, gazebo, dan sarana penunjang lainnya.

Selain itu, pihaknya juga menyiagakan anggota Pokja Wisata serta Linmas untuk berjaga demi kenyamanan dan keamanan wisatawan.

"Wisata alam yang kami kembangkan bisa juga disebut sebagai objek wisata gotong royong. Mengapa demikian? Karena kepemilikannya adalah bersama-sama masyarakat, khususnya petani hutan. Mulai dari menyusun ide, tahap pembangunan hingga operasional selalu melibatkan masyarakat," kata Purnomo.

Menurut dia, masyarakat di sekitar destinasi wisata turut diberdayakan dengan bekerja sebagai tenaga operasional, berdagang makanan, jasa pijat, ojek, angkutan wisata, berjualan suvenir, dan juru parkir, sehingga semuanya kebagian rezeki.Baca Juga: Dorong Pendapatan, Lembaga Desa Hutan Bisa Kembangkan Agrowisata
Menikmati Sejuknya Hutan Suak Parak Mangrove yang Ada di Tengah Kota



Ia mengatakan, pihaknya selaku pengelola bersama para pelaku wisata telah berkomitmen untuk tidak membuat kecewa pengunjung dengan tidak menjual makanan, minuman, jasa, maupun tarif parkir secara tidak wajar.

"Bagi kami, citra positif sebuah tempat wisata sangat mahal harganya, untuk itu kami tidak kenal lelah untuk berbenah," katanya. 

Video Terkait