Hari Hutan Internasional: Hutan Kita Terlalu Berharga untuk Hilang

Ilustrasi hutan. (pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 21 Maret 2022 | 15:50 WIB

Sariagri - Ketika kita minum segelas air, menulis di buku catatan, minum obat saat sakit atau membangun rumah, kita tidak selalu menghubungkannya dengan hutan. Namun banyak aspek lain dari kehidupan kita terkait dengan hutan dan jasa lingkungan yang disediakan oleh hutan dalam satu dan lain hal.

Kayu membantu menyediakan makanan dan air bersih di banyak dapur, membuat furnitur dan peralatan kayu yang tak terhitung jumlahnya, menggantikan bahan yang berbahaya seperti plastik, membuat serat untuk pakaian kita dan, melalui teknologi, menjadi bagian kedokteran atau transportasi luar angkasa.

Tema Hari Hutan Internasional tahun ini adalah “Hutan dan produksi - konsumsi berkelanjutan”. Tema ini mengacu pada pengelolaan hutan yang lestari dan cara kita mengelola sumber daya hutan, kunci dalam memerangi perubahan iklim.

Pengelolaan hutan yang lestari juga berkontribusi pada kemakmuran dan kesejahteraan untuk generasi sekarang dan masa depan. Hutan memainkan peran penting dalam pengentasan kemiskinan dan dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

“Sangat penting untuk memproduksi dan mengkonsumsi kayu dengan cara yang lebih ramah lingkungan bagi bumi dan penghuninya. Mari kita lindungi sumber daya yang mudah diperbarui ini dengan pengelolaan hutan yang berkelanjutan”, ujar Rajendra Aryal, Kepala Perwakilan FAO di Indonesia.

Namun terlepas dari semua manfaat ekologi, ekonomi, sosial dan kesehatan yang tak ternilai ini, deforestasi global terus berlanjut pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Dunia kehilangan 10 juta hektar hutan per tahun – lebih dari setengah luas Sulawesi – dan degradasi lahan mempengaruhi hampir dua miliar hektar, wilayah yang lebih luas dari Amerika Selatan.

Hilangnya hutan dan degradasi dari fungsi hutan menimbulkan berbagai macam masalah seperti pemanasan global, dan diperkirakan bahwa lebih dari delapan persen tanaman hutan dan lima persen hewan hutan dan burung berada pada “risiko yang sangat besar” untuk punah.

“Pemerintah Indonesia telah menunjukkan upaya luar biasa untuk mengurangi deforestasi. Upaya ini perlu kita apresiasi dengan mendukung pemerintah Indonesia menegakkan hukum untuk melindungi hutan dan masyarakat hutan sebagai aspek fundamental dalam mengelola hutan lestari”, tambah Rajendra.

Dalam laporan terakhir, deforestasi di Indonesia adalah yang terendah dalam 6 tahun. Pada 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah merehabilitasi sekitar 400 ribu hektar hutan dan selama pandemi, KLHK berencana menambah jumlah bibit yang akan ditanam tahun ini.

Kepresidenan G-20 Indonesia juga mendorong program Indonesia untuk mencapai pembangunan ekonomi berkelanjutan, dan tahun 2045 menargetkan untuk memasukkan pengelolaan hutan lestari.

FAO mendukung Indonesia untuk memastikan bahwa kayu Indonesia diproduksi secara berkelanjutan di bawah perlindungan hukum.

Hutan adalah rumah bagi sekitar 80% keanekaragaman hayati terestrial dunia, dengan lebih dari 60 ribu spesies pohon. Sekitar 1,6 miliar orang bergantung langsung pada hutan untuk makanan, tempat tinggal, energi, obat-obatan, dan pendapatan.

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mencanangkan 21 Maret sebagai Hari Hutan Internasional (IDF) pada tahun 2012. Hari ini merayakan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya semua jenis hutan.

Tema untuk setiap Hari Hutan Internasional dipilih oleh Kemitraan Global Kolaboratif untuk Hutan.

Video Terkait



Baca Juga: Hari Hutan Internasional: Hutan Kita Terlalu Berharga untuk Hilang
Perbukitan Hutan Lindung Daerah Ini Kerap Terbakar, Diduga Lemahnya Patroli Hutan