Tidak Banyak yang Tahu, Wayang Potehi Dibuat dari Tiga Bahan Kayu Terbaik

Pembuatan wayang potehi.(Sariagri/Arief L)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 27 Januari 2022 | 16:25 WIB

Sariagri.id - Ada tiga jenis kayu dengan mutu terbaik yang dihasilkan dari alam Indonesia untuk bahan baku utama pembuatan wayah potehi. Ketiga kayu itu kayu waru (Hibiscus tiliaceus), kayu mahoni (Swietenia mahagoni) dan kayu waru gunung atau yang biasa dikenal dengan sebutan kayu waru gombong (Hibiscus similis Bl).

Dari ketiga bahan itu, yang paling disukai perajin wayang potehi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur yaitu Kayu waru gunung. Alasannya karena lunak sehingga mudah sekali dipahat dan diukir untuk membentuk karakter kepala wayang potehi.

Supangat (52) perajin wayang potehi yang telah 20 tahun bergabung dalam Paguyuban Wayang Potehi Fu He An di Jalan Raya Wangkal, Dusun Tukangan, Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Menurut Supangat, pembuatan wayang potehi dimulai dari pemotongan bahan dasar berupa kayu dari pohon waru gunung. Kayu itu dipotong khusus persegi panjang berukuran panjang 12 sentimeter, lebar 7 sentimeter dan tinggi 5 sentimeter.

"Awalnya kan kayu masih kotak ini. Ukurannya harus disamakan, harus persagi. Kalau tidak persegi nanti telinga antara satu dan satunya tidak sama," ujar perajin wayang potehi, Supangat kepada Sariagri.id, Kamis (27/1/2022).

Setelah melalui proses pengukuran, lanjut Supangat, potongan kayu waru dilakukan proses pengukiran dengan menggunakan alat pahat berbagai ukuran. Alat ukir itu digunakan untuk membentuk pola atau bentuk wayang sesuai karakter wayang potehi.

"Nanti kalau sudah berbentuk, tinggal. Dihaluskan dengan amplas tanpa pendempulan," katanya.

Untuk menyelesaikan satu wayang potehi, pria yang sebelumnya seorang perajin mebel atau furnitur itu membutuhkan waktu satu hari penuh. Proses dimulai dari pengukuran kayu sebagai bahan dasar hingga terbentuk karakter wayang potehi.

"Untuk mengerjakan satu karakter ini butuh waktu satu hari," katanya.

Setelah diukir menggunakan pahat beragam ukuran hingga menjadi tokoh wayang yang diinginkan dan dihaluskan dengan amplas, selanjutnya diwarnai sesuai karakter.

“Ada karakter raja, putri, prajurit hingga anak anak dengan wajah lucu. Wayang Potehi. Setelah dipahat, proses selanjutnya adalah pewarnaan. Proses ini sangat krusial karena pemilihan warna menentukan karakter setiap wayang,” jelasnya.

Dia mencontohkan karakter raja biasanya diberi paduan warna merah dan hitam. Hal itu tentu berbeda degan pemberian warna untuk karakter ratu maupun anak anak.

”Ada ribuan karakter di Wayang Potehi. Karena setiap cerita beda pula karakter yang dimainkan,” katanya.

Untuk membuat wayang itu dibutuhkan tingkat ketelitian dan kejelian tinggi. Ini setelah setiap karakter wayang memiliki bentuk berbeda.

“Masing-masing punya karakter tertentu,” tambahnya.

Setelah pewarnaan selesai, wayang potehi dipasangkan baju. Baju itu terdiri dari baju dalam, baju utama dan topi. Setiap wayang juga diberikan asesoris tambahan seperti senjata dan kipas tergantung karakternya.

”Kalau baju dalam itu terbuat dari kain karung, sedangkan baju utama terbuat dari kain santen,” jelasnya.

Baju itu tidak dibuat di Jombang melainkan didatangkan dari Kabupaten Tulungagung. Karena tidak semua penjahit bisa membuatkan busana untuk Wayang Potehi.

”Kalau di Jombang itu hanya pembuatan wayangnya,” katanya.

Dalam membuat wayang potehi, waktu yang dibutuhkan kadang hingga berminggu-minggu. Dalam sekali pembuatan, ada puluhan wayang yang dikerjakan sehingga waktu yang dibutuhkan cukup lama.

Sementara itu, Pimpinan Paguyuban Wayang Potehi Fu He An Toni Harsono mengungkapkan, jumlah karakter wayang ini mencapai ratusan. Namun hanya 50-70 tokoh utama saja yang seringkali dipentaskan dalam pertunjukan.

“Seperti tokoh Sun Go Kong, Tong Sam Chong, Cu Pat Kay ini kan tidak bisa diganti-ganti,” terangnya.

Toni menjelaskan Wayang Potehi terdiri dari tiga kata yaitu poo yang berati kain, tee kantong dan hi pertunjukan. Jika digabung ketiganya berarti pertunjukan kantong kain.

Tujuan utama pertunjukan wayang potehi tidak hanya sebagai tontonan, namun juga tuntunan tentang arti kehidupan, perjalanan hidup maupun kematian.

”Selain itu, tujuan pertunjukan wayang potehi adalah untuk menghibur dewa-dewi yang ada di klenteng,” kata pria asli Sidoarjo itu.

Sejarah wayang potehi, pertama kali dikenalkan suku Hokian, salah satu suku di Cina. Selanjutnya meluas dibawa pedagang Cina hingga ke daratan Cina dan akhirnya ke wilayah Indonesia dan Taiwan.

”Kalau di Jawa Timur itu pusatnya ada di Jombang dan Surabaya. Di daerah lain juga ada tapi tidak membuat wayang potehi,” katanya.

Baca Juga: Tidak Banyak yang Tahu, Wayang Potehi Dibuat dari Tiga Bahan Kayu Terbaik
Menengok Kebun Kayu Putih di Daratan Papua yang Mampu Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Tani

Dia menyebut beberapa lakon yang sering dibawakan dalam pertunjukan Wayang Potehi yaitu Si Jin Kui dan Ceng Se, Hong Kiam Chun Chiu, Cu Hun Cau Kok, Lo Thong Sau Pak dan Pnui Si Giok.

“Setiap wayang bisa dimainkan untuk pelbagai karakter, kecuali Koan Kon, Utti Kiong dan Thia Kau Kim yang warna mukanya tidak bisa berubah,” tandasnya.

Video terkait:

Video Terkait