Berburu Entung, Dikonsumsi Gurih Atau Dijual Rp70.000 per Kilogram

Berburu kepompong ulat daun jati atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan entung.(Sariagri/Arief L)

Editor: Arif Sodhiq - Selasa, 25 Januari 2022 | 13:00 WIB

Sariagri.id - Musim penghujan menjadi berkah tersendiri bagi warga di tepian hutan jati Desa Gesing, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Setiap menjelang sore, remaja putri hingga ibu rumah tangga masuk hutan secara berkelompok untuk berburu kepompong ulat daun jati atau dalam bahasa Jawa disebut entung.

Selain dikonsumsi sendiri sebagai lauk-pauk, sebagian kepompong hasil buruan warga juga dijual.

“Tak butuh peralatan khusus, hanya mengandalkan insting dan kejelian mata. Keberadaan kepompong ini biasanya bersembunyi di bawah daun jati kering yang berserakan di tanah, baik daun yang basah terkena air hujan atau kering,” ujar remaja putri pemburu kepompong ulat daun jati, Sella kepada Sariagri.id, Senin (24/1/2022).

Sella mengaku selama tiga jam berburu terkadang bisa mendapatkan satu kilogram (kg) hingga dua kg kepompong ulat daun jati.

“Jika beruntung bisa dapat dua kilo lebih. Jika dijual per kilo biasa dihargai Rp70.000 sehari kadang bisa bawa pulang uang Rp100.000. Kalau ada lebihnya ya dimasak untuk dimakan di rumah sebagai lauk-pauk,” katanya.

Baca Juga: Berburu Entung, Dikonsumsi Gurih Atau Dijual Rp70.000 per Kilogram
Hotel Ini Tawarkan Kamar yang Menghadap Langsung ke Kandang Harimau, Tuai Kecaman Publik

Sella menyebutkan para pembeli ulat kepompong daun jati merupakan warga sekitar Tuban. Dia menambahkan dibutuhkan keahlian khusus dalam memasaknya. Jika kurang berpengalaman dalam memasaknya, lanjut dia, yang mengkonsumsi akan mengalami alergi gatal-gatal kulit.

“Cara masaknya untuk dijadikan lauk biasa dikukus dulu kemudian digoreng, ditumis, dioseng atau dibacem. Soal rasa dijamin lebih gurih dan enak dibandingkan daging ayam, telur atau ikan,” tandasnya.

Video terbaru:

Video Terkait