BKSDA Sumbar Tangani Konflik Manusia dengan Satwa Liar Dilindungi

Tim BKSDA Sumbar dan karyawan PT Bakrie Pasaman Plantations sedang mengidentifikasi lapangan, Rabu (19/1/2022). (Antara/Yusrizal)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 20 Januari 2022 | 16:30 WIB

Sariagri - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat menangani konflik manusia dengan satwa liar jenis harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di dua lokasi di Kabupaten Pasaman Barat.

"Kita menangani konflik manusia dengan satwa ini secara bersamaan," ujar Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Sumbar, Ade Putra.

Menurut Ade, penanganan konflik itu pertama dilakukan di lokasi perkebunan kelapa sawit bekas lahan plasma PT Pasaman Marama Sejahtera (PMS) yang sudah beralih kepemilikan di Jorong Situak, Nagari Situak Ujung Gading, Kecamatan Lembah Malintang.

Konflik itu diketahui setelah viral video satwa dilindungi UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya itu mendekati operator dan kenek alat berat jenis excavator saat membuka jalan di kebun kelapa sawit itu.

BKSDA Sumatera Barat kemudian menurunkan tim dari Resor Agam dan Resor Pasaman untuk verifikasi, identifikasi lapangan dan melakukan wawancara dengan dua pekerja itu.

Dari hasil verifikasi, lokasi kemunculan satwa berada di perkebunan kelapa sawit bekas Plasma PT. Pasaman Marama Sejahtera (PMS) yang telah beralih kepemilikan di Jorong Situak, Nagari Situak Ujung Gading, Kecamatan Lembah Malintang, Pasaman Barat.

Satwa muncul dekat alat berat yang digunakan untuk perbaikan jalan kebun dan bertemu dengan para pekerja. Lokasi itu berada sekitar dua kilometer dari kawasan hutan lindung yang merupakan landscape Danau Laut Tinggal.

"Kami memasang kamera jebak untuk memonitor keberadaan satwa," katanya.

Ade mengatakan lokasi kedua berada di PT Bakrie Pasaman Plantations di Nagari Sungai Aur, Kecamatan Sungai Aur. Setelah mendapatkan laporan dari manajemen, Tim BKSDA Sumbar ke lokasi munculnya satwa bersama dengan karyawan perusahaan.

"Lokasi munculnya harimau ini dengan jarak sekitar 14 kilometer dari landscape Danau Laut Tinggal. Konflik pertama dengan kedua dengan jarak 16 kilometer," katanya.

Dia menjelaskan, Tim BKSDA Sumbar akan melakukan penghalauan satwa ke kawasan hutan lindung siang dan malam dengan cara bunyi-bunyian di lokasi perkebunan kelapa sawit itu.

"Penghalauan itu kita lakukan untuk tiga hari kedepan dan melihat tanda keberadaan satwa itu. Kami meminta untuk sementara waktu aktifitas di lahan itu dihentikan untuk keselamatan pekerja," katanya.

Harimau ini masuk ke perkebunan kelapa sawit akibat kekurangan pakan berupa babi hutan, karena babi banyak ditemukan dalam kondisi mati oleh para pekerja kebun pada 2021.

Quality Healt Safety Environmental Head PT Bakrie Pasaman Plantations, Rozi Afrianto menambahkan harimau itu pertama kali dilihat karyawan saat bekerja di lahan kepala sawit pada 15 Januari 2022.

”Satwa itu dijumpai oleh beberapa karyawan saat melakukan aktivitas penyemprotan dan karyawan menemukan satwa itu tiga kali," katanya.

Karyawan itu kemudian melaporkan ke manajemen yang langsung berkoodinasi dengan BKSDA Sumatera Barat. Untuk jumlah satwa di lokasi perkebunan masih simpang siur. Ada karyawan yang mengaku melihat induk dan anak harimau.

"Laporan terakhir yang kami peroleh satwa masuk ke sekitar perumahan. Setelah dilakukan observasi, jumlah individu masih diragukan, namun dari keterangan petugas BKSDA, apabila ada anak, pasti ada induknya," katanya.

Baca Juga: BKSDA Sumbar Tangani Konflik Manusia dengan Satwa Liar Dilindungi
BKSDA Sumbar Amankan Seekor Harimau Sumatera

Rozi menambahkan aktivitas karyawan di lokasi ditemukan harimau untuk sementara diisolasi. Dia meminta bantuan ke tim satpam untuk memastikan karyawan tidak melakukan aktivitas di tempat dijumpai satwa ini.

Selain itu, mengimbau masyarakat dan karyawan untuk tidak melakukan aktifitas keluar malam. "Ini mengantisipasi satwa liar dan tidak menjadi korban," pungkasnya. 

Video:

Video Terkait