Menengok Kebun Kayu Putih di Daratan Papua yang Mampu Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Tani

Kebun kayu putih di Desa Rimba Jaya, Distrik Biak Timur, Kabupaten Biak Numfor. (Dorteus Wanma)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 18 Januari 2022 | 16:05 WIB

Sariagri - Kampung Rimba Jaya di Distrik Biak Timur, Kabupaten Biak Numfor menjadi salah satu penghasil minyak kayu putih di daratan Papua. Kelompok Tani Farkin Sup yang dalam bahasa Biak memiliki arti "lindungi hutan" saat ini aktif memproduksi sedikitnya 30 liter minyak kayu putih setiap dua minggu sekali.

Dorteus Wanma, Seksi Program dan Pelaksana Lapang Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Mamberamo (BPDAS Mamberamo) mengatakan program penanaman kayu putih dan produksi minyak kayu putih di Biak Numfor itu telah dilakukan sejak tujuh tahun lalu. Lebih tepatnya, sekitar tahun 2015 ketika hasil uji coba yang dilakukan dari pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan kecocokan bagi tanaman kayu putih tumbuh baik di wilayah tersebut.

"Awalnya dari UGM tanam kayu putih seluas 5 hektar, ternyata cocok, kemudian KPH mengusulkan penambahan 10 hektar lagi untuk area penanaman kayu putih di tahun 2016," ujar Dorteus kepada Sariagri.

Kemudian, kata Dorteus di tahun 2017 luas lahan kebun kayu putih ditambah lagi 5 hektar sehingga totalnya saat ini mencapai 20 hektar. Dorteus menyebutkan, setidaknya ada 22 orang petani di Kampung Rimba Jaya yang kini aktif mengelola 20 hektar kebun kayu putih tersebut dan memproduksi minyaknya.

Petani kayu putih dari kelompok Farkin Sup menimbang kayu putih hasil panen. (Dorteus Wanma)
Petani kayu putih dari kelompok Farkin Sup menimbang kayu putih hasil panen. (Dorteus Wanma)

"Nah dari 2017 itu kami dari BPDAS memberikan fasilitas alat suling sederhana, bibit kayu putih, gas, hingga kendaraan operasional," ungkap Dorteus.

Menurut Dorteus, para petani sangat antusias dengan program kayu putih tersebut. Sebab, minyak kayu putih yang dihasilkan pun memiliki nilai jual yang tinggi sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Minyak kayu putih buatan Kelompok Tani Fakrin Sup dipatok mulai dari Rp300.000 hingga Rp700.000 tergantung dari ukuran kemasan. Saat ini, mereka baru memasarkan minyak kayu putih ke pasar lokal.

"Meski baru dipasarkan secara lokal, tapi produk mereka selalu habis terjual. Peminatnya banyak karena memang minyak kayu putih ini masih sangat asli," kata Dorteus.

Sensasi hangat yang sangat terasa saat digunakan, kata Dorteus, menjadi salah satu kelebihan minyak kayu putih tersebut. Lebih lanjut, ia mengatakan, tahun 2022 pemerintah setempat akan meningkatkan luasan lahan kebun kayu putih di Biak Numfor hingga 100 hektar. Dengan luasan tersebut, kata Dorterus diharapkan produksi minyak kayu putih dapat meningkat pesat dan dikomersilkan secara lebih luas.

"Karena saat ini para petani mau kerja sama dengan perusahaan besar belum bisa sebab produksi minyak kayu putih masih terbatas. Dengan menambah luas lahan kayu putih, diharap dapat meningkatkan produksi minyak kayu putih di masyarakat," ucap Dorteus.

Dorteus menambahkan, rencana penambahan luas perkebunan kayu putih diharap dapat membuka peluang bagi pengusaha dan swasta untuk masuk dan berinvestasi pada produk minyak kayu putih masyarakat yang lebih besar.

Baca Juga: Menengok Kebun Kayu Putih di Daratan Papua yang Mampu Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Tani
Kreatif, Pemuda Ini Sulap Limbah Kayu Jadi Alat Musik Biola



"Mungkin dari pengusaha atau orang luar daerah bisa masuk mengkomersilkan produk minyak kayu putih masyarakat Biak Numfor jika produksi di sini sudah lebih besar," pungkas Dorteus.

Video Terkait