Pernah Jadi Primadona Dunia, Pohon Kapur Asal Barus Diambang Kepunahan

Bunga pohon kapur.(Foter)

Editor: Arif Sodhiq - Selasa, 18 Januari 2022 | 08:00 WIB

Sariagri - Kapur barus atau kamper pernah menjadi komoditas yang diperhitungkan dunia sejak abad II Masehi. Kristal berwarna putih dari pohon kapur ini memiliki aroma khas yang digunakan untuk obat-obatan, dupa dan parfum. 

Pohon kapur (Dryobalanops aromatica) adalah pohon yang menghasilkan kristal kapur barus atau kamper. Pohon ini sudah sangat jarang ditemukan di Indonesia dan statusnya menurut IUCN  Redlist adalah Critically Endangered (kritis).

Tanaman khas dari daerah Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara ini punya nama lokal Haburuan atau Kaberun. Pohon kamper di daerah itu juga pernah menjadi komoditas primadona pada abad IV hingga X Masehi.

Pedagang dari seluruh dunia mengenal Barus sebagai sentra kapur barus berkualitas. Bahkan Marco Polo, penjelajah dunia asal Italia pernah mencatat nilai kapur barus saat itu setara dengan emas.

Morfologi pohon kapur

Pohon kapur merupakan jenis pohon yang dapat tumbuh besar dan tegak lurus. Tingginya bisa mencapai 60 -75 meter dengan diameter batang hingga 70 cm. Tumbuhan anggota suku Lauraceae ini masih berkerabat dekat dengan alpukat dan kayu manis yang mampu menghasilkan senyawa kimia volatil di seluruh bagian pohon.

Kulit pohon kapur berwarna coklat dan coklat kemerahan atau abu-abu pada bagian dalam. Sementara kayu bagian gubalnya berwarna kuning keputihan dan memiliki serat yang kasar. Namun kayu pohon kapur terkenal sangat keras dan sering digunakan untuk konstruksi bangunan, perkapalan dan furniture.

Saat batang pohon dipotong akan mengeluarkan aroma kapur barus yang khas. Termasuk bagian daunnya yang mengeluarkan aroma wangi saat diremas. Bunga pohon kapur berwarna putih yang dilapisi lapisan lilin. Sementara buahnya agak besar, mengkilap dan berwarna hijau saat muda.

Habitat pohon kapur

Pohon kapur tumbuh dengan baik di hutan dipterocarp campuran pada ketinggian 300 meter di atas permukaan laut. Tanaman yang juga menghasilkan Produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) ini tersebar mulai dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Semenajung Malaysia, Serawak, Sabah hingga Filipina.

Sementara di Indonesia, pohon kapur sudah sangat jarang dijumpai. Di Sumatera, pohon kapur saat ini hanya ditemukan di beberapa titik di daerah Barus dan Aceh Singkil.

Baca Juga: Pernah Jadi Primadona Dunia, Pohon Kapur Asal Barus Diambang Kepunahan
'Jumat Menanam', Pemprov DKI Tanam Pohon Langka di Taman Bio Trans

Selain pohon kapur dari spesies Dryobalanops aromatica, ada pohon kapur dari spesies Cinnamomum camphora yang juga menghasilkan kristal kapur barus. Spesies ini merupakan tumbuhan khas yang banyak ditemukan di negara Cina.

Kristal kapur diperoleh dari bagian dalam kayu, dengan cara menyadap, memotong atau membelahnya. Sebab itu, banyak orang yang menebang dengan membabi buta untuk memperoleh kristal kapur di dalamnya. Akibatnya, Pohon kapur semakin langka dan diambang kepunahan.

Video:

Video Terkait