Bantu Warga Hadapi Pendemi, Komunitas di Bali Luncurkan Program Tukar Sampah dengan Beras

Ilustrasi warga memungut sampah plastik. (Foto Unsplash)

Editor: M Kautsar - Rabu, 5 Januari 2022 | 20:50 WIB

Sariagri - Bagi pemilik toko oleh-oleh khas Bali I Kadek Rai Nama Rupat, dua tahun terakhir di masa pandemi Covid-19 menjadi perjuangan untuk bertahan hidup. Pandemi telah mencegah turis asing dan menurunkan tingkat kunjungan wisatawan secara drastis di Bali, termasuk tempat usahanya. Kenaikan harga pangan juga turut memperparah kondisi ekonomi warga.

Di tengah kondisi ini, sebuah kelompok masyarakat meluncurkan gerakan bersifat nirlaba, yakni menawarkan bantuan dengan menukar beras dengan sampah plastik yang dibawa warga. Sampah-sampah plastik itu selanjutnya dijual ke perusahaan daur ulang.

“Setiap potongan sampah plastik sangat berharga bagi penduduk desa saat ini dan bagi perekonomian kita,” kata Rupat, yang menukar sekitar empat kilogram plastik dengan satu kilogram beras.

Beras berharga sekitar Rp15.000-20.000 per kg dan penduduk setempat memperkirakan satu keluarga yang terdiri dari empat orang mengonsumsi sekitar dua kg makanan pokok per hari. Mereka menilai pertukaran ini  sepadan dan cukup membantu.

Dikutip dari Asia One, Bali Plastic Exchange didirikan pada Mei tahun lalu oleh I Made Janur Yasa, yang seperti banyak orang Bali melihat bisnis utamanya menjalankan restoran vegan yang terpukul keras oleh pandemi.

Pria berusia 55 tahun itu mengatakan ia menggulirkan proyek ini karena terdorongan keinginan untuk memberi makan masyarakat di provinsi asalnya di Bali dan untuk memperbaiki lingkungan.

Sampah memang telah menyisakan persoalan besar di Indonesia. Menurut sebuah studi tahun 2019 yang diterbitkan dalam jurnal Science, Indonesia adalah penyumbang polutan plastik terbesar kedua di lautan secara global.  Baca Juga: Bantu Warga Hadapi Pendemi, Komunitas di Bali Luncurkan Program Tukar Sampah dengan Beras
3 Tahun Kumpulkan 10 Ribu Sampah Plastik dari Sungai, Gadis Asal Gresik Ini Ciptakan Museum



Dalam program ini, tidak ada batasan berapa banyak sampah plastik yang dapat dibawa warga. Namun penyelenggara mendorong orang untuk mengumpulkan sampah dari lingkungan mereka sendiri.

Yasa mengaku, setelah menyebar dari mulut ke mulut, inisiatif ini telah membantu mendukung sekitar 40.000 keluarga di 200 desa, sambil mendaur ulang hampir 600 ton (544 ton) sampah plastik. “Program ini mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat,” kata Yasa. Ia berharap dapat memperluas  proyek ini ke provinsi lain di Indonesia.

Video Terkait