Budidaya Jahe Merah Cara BRGM dan BKSDA Ajak Masyarakat Jaga Lahan Gambut

Budidaya jahe merah kelompok masyarakat Sinar Harapan.(Dok.Pribadi)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 22 Desember 2021 | 19:00 WIB

Sariagri - Lahan gambut di wilayah Desa Rambai, Kabupaten Ogan Komering Illir berbatasan langsung dengan hutan Taman Margasatwa Padang Sugihan. Badan Pengelola Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama Badan Restorasi Gambut dan Rehabilitasi Mangrove (BRGM) membentuk program revitalisasi ekonomi masyarakat melalui kegiatan budidaya jahe merah untuk menekan kasus kebakaran lahan gambut. 

Program ini diutamakan untuk masyarakat yang selama ini menggantungkan mata pencaharian pada hutan margasatwa. Paulina, seorang staff BRGM khusus pendamping wilayah Sumatera Selatan mengatakan program budidaya jahe merah di lahan gambut Desa Rambai telah berjalan selama dua tahun sejak 2019.

Di tahun pertama, kelompok masyarakat tani Sinar Harapan dilatih dan didampingi untuk menanam jahe merah di lahan gambut. Selanjutnya di tahun kedua, pendampingan dilakukan melalui kegiatan pengolahan jahe merah menjadi produk bernilai tambah seperti sirup jahe merah, emping jahe merah, dan bubuk jahe mereh bernama RASTRA.

“Pendampingan budidaya dan pengolahan jahe merah ini bertujuan untuk mengalihkan masyarakat yang bergantung pada Hutan Margastwa Padang Sugihan untuk menjadi petani kreatif dan inovatif dengan mengolah jahe merah menjadi sebuah produk yang bernilai tinggi,” jelas Paulina kepada Sariagri.id di Jakarta, Rabu (22/12/2021).

Paulina menyebutkan, alokasi anggaran untuk program budidaya dan pengembangan produk berkisar Rp200 juta.

“Pendampingan budidaya dari BRGM kurang lebih dana bantuannya Rp100 juta, dan program pengembangan produk berupa alat dan mesin juga sekitar Rp100 juta,” ungkap Paulina.

Menurut dia, seiring dengan adanya program revitalisasi ekonomi masyarakat, kasus kebakaran lahan gambut di daerah itu sudah berkurang signifikan.

“Tidak seperti waktu tahun 2018 di mana kebakaran lahan paling banyak terjadi di Sumatera Selatan. Tetapi saat ini sudah tidak ada kebakaran gambut lagi, karena kalau ada kebakaran satu titik saja mereka (masyarakat) langsung bergerak cepat. Saya lihat antusias program ini sangat besar,” kata Paulina.

Paulina mengatakan BRGM juga turut membantu mempromosikan dan memasarkan hasil produk kelompok masyarakat yang terlibat dalam program itu. Beberapa di antaranya dengan mengajak kelompok masyarakat tani mengikuti pameran dan memasarkan produk melalui koperasi BRGM di Palembang.

“Hasil produk mereka, kami bantu dalam hal promosi dan penjualannya. Kami ajak mereka ikut pameran di berbagai daerah. Kami juga punya koperasi di Palembang, jadi semua hasil dari Pokmas di Sumatera Selatan dari mulai produk pertanian, perikanan kami bantu penjualannya,” kata Paulina.

Dia berharap masyarakat yang terlibat bisa terus menjaga dan mengolah lahan gambut secara berkelanjutan serta mandiri secara finansial.

Baca Juga: Budidaya Jahe Merah Cara BRGM dan BKSDA Ajak Masyarakat Jaga Lahan Gambut
Kendalikan Abrasi, Presiden Jokowi Tanam Mangrove di Pulau Terdepan Indonesia

“Harapan kami mereka bisa menjaga gambut, tidak membakar lahan lagi. Dengan program Revitalisasi Ekonomi Masyarakat diharap dapat menciptakan lapangan kerja sehingga mereka bisa mandiri secara finansial,” pungkasnya.

Berdasarkan SK Bupati No.442 Tahun 2016 Desa Rambai, Kabupaten Ogan Komering Illir memiliki luas wiayah sekitar 7.199 hektare terdiri dari 960 hektare lahan mineral dan 6.329 hektare lahan gambut.

Video terkait:

 

Video Terkait