3 Tahun Kumpulkan 10 Ribu Sampah Plastik dari Sungai, Gadis Asal Gresik Ini Ciptakan Museum

Aeshnina Azzahra Aqilani saat berbicara di forum internasional mengenai plastik. (Foto Istimewa)

Editor: M Kautsar - Sabtu, 18 Desember 2021 | 09:00 WIB

Sariagri - Seorang gadis remaja di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, rela meluangkan waktu untuk mengumpulkan puluhan ribu botol bekas minuman berbagai merek dan limbah kantong plastik belanja minimarket untuk dikreasi menjadi sebuah lorong berikut bangunan hunian unik.

Sampah kantong plastik dan botol bekas minuman itu, dikumpulkan oleh Aeshnina Azzahra Aqilani (14 tahun) seorang pelajar SMP di Kecamatan Wringinanom, Gresik dari hasil evakuasi di sejumlah sungai di wilayah setempat.

“Ada sekitar 10 ribu sampah yang berhasil saya evakuasi bersama teman-teman di sungai sekitar Kabupaten Gresik. Sampah berupa botol minuman dan kantong plastik belanjaan ini hasil mengumpulkan selama hampir 3 tahun dan kami kreasikan menjadi sebuah lorong beserta bangunan hunian unik," ujar Azzahra kepada Sariagri, Jumat (17/12).

Remaja yang akrab dipanggil dengan nama pendek Nina ini mengatakan bangunan tersebut bukan sekedar menjadi hunian unik, namun ia lebih senang menyebutnya sebagai museum sampah Fish Fersus Flastic (3F). 

Museum sampah plastik merupakan hasil kreasi Nina bersama teman-teman remaja sebayanya yang tergabung dalam Tim River Warrior.

Pada museum plastik ini ada empat buah instalasi yang dibuat, instalasi pertama yang merupakan terowongan sepanjang 10 meter yang ditutupi dengan jaring-jaring tempat menggantung sebanyak 3.544 botol plastik bekas minuman.

Kemudian di bagian tengah ada dua instalasi lain berupa menara mennyerupakai bangunan rumah dari tas kantong palstik setinggi 6 meter, dan jaring sepanjang 8 meter yang dipenuhi sampah gelas plastik.

Aeshnina Azzahra Aqilani membuat museum rumah plastik bersama rekan-rekannya. (Foto Sariagri/Arief L)
Aeshnina Azzahra Aqilani membuat museum rumah plastik bersama rekan-rekannya. (Foto Sariagri/Arief L)

Tim River Warrior yang dipimpin Nina aktif dalam Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton) sehingga popularitas mereka melejit hingga dikenal di sejumlah negara asing.

"Saya dan tim tiada henti mengkampanyekan dampak sampah plastik bagi kesehatan dan lingkungan, termasuk melalui museum sampah. Karena itu saya mewakili teman-teman kerap diundang menjadi pembicara disejumlah forum internasional,” akunya.

Nina menyebutkan forum dunia yang kerap mengundangnya datang menjadi pembicara  diantaranya yang terbaru yakni COP 26 (konferensi perubahan iklim oleh persatuan bangsa bangsa) di Inggris dan Forum Plastic Health Summit 2021 di Amsterdam, Belanda.

"Saya juga pernah ikut aksi protes menolak kemasan sachet bersama breakfree from plastic dan zero waste di kawasan blue zone, Inggris," imbuhnya.

Gemar meneliti dampak mikro plastik

Aeshnina Azzahra Aqilani berkampanye mengenai dampak penggunaan plastik. (Foto Istimewa)
Aeshnina Azzahra Aqilani berkampanye mengenai dampak penggunaan plastik. (Foto Istimewa)



Puteri bungsu dari tiga bersaudara pasangan aktivis lingkungan Perigi Arisandi dan Daru Setyorini ini juga getol melakukan penelitian kandungan mikro plastik dan dampak negatifnya bagi ekosistem. 

Menurutnya, persoalan pencemaran lingkungan tidak bisa dibiarkan karena dampaknya akan dirasakan generasi yang akan datang. 

"Saya bertekad akan terus bergerak menyuarakan pelestarian lingkungan karena generasi mendatang juga berhak atas udara yang bersih, air yang jernih serta lingkungan yang bersih sehat dan nyaman, “ terangnya.

Kecintaan terhadap lingkungan mendorong keinginannya mewujudkan cita cita menjadi menteri lingkungan hidup.

“Ketertarikan pada persoalan lingkungan ini, terinspirasi dari kedua orang tua saya yang juga aktivis lingkungan. Karena itu saya akan terus bergerak menyuarakan peduli lingkungan, termasuk masa depan saya akan menggantikan Ibu Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, “ pungkasnya.

Video Terkait