PKSPL IPB University Sebut Lima Pilar Ketahanan yang Bisa Dicapai Dengan Ekosistem Mangrove

BRGM rehabilitasi mangrove di Papua. (Antara)

Editor: M Kautsar - Senin, 29 November 2021 | 22:00 WIB

Sariagri - Kepala Pusat Studi Sumber Daya Pesisir dan Laut (PKSPL) IPB University, Yonvitner menjelaskan lima pilar ketahanan yang dapat dicapai dengan ekosistem mangrove.

 “Pilar pertama yang diangkat adalah ketahanan ekologi. Peran mangrove dalam mengatur struktur ekologi lingkungan sangat besar,” ujar Yonvitner dikutip dari laman resmi IPB University.

Menurut Yonvitner, ekosistem mangrove mampu mengatur struktur tropis dari produksi primer hingga sekunder, serta sebagai penyangga dan pengatur. Ketika peran sebagai pengatur ekologi hilang, maka akan terjadi kekacauan ekologi yang meluas.

Pilar kedua, lanjut Yonvitner, itu ketahanan iklim, yang merupakan peran utama mangrove.

“Kami menemukan bahwa fungsi mangrove sebagai pengontrol iklim empat kali lebih besar dari yang lain, baik sebagai penyerap dan penyimpan karbon,” tambahnya.

Dia mengungkapkan, salam berbagai penelitian yang dilakukan oleh PKSPL IPB University, potensi penyerapan karbon oleh mangrove mencapai 32 ton per hektar. Kemampuan menyerap karbon tersebut bervariasi berdasarkan ketebalan dan kualitas mangrove.

 “Berdasarkan data analitik dari roadmap NDC, potensi kerugian ekonomi bisa mencapai 1800 triliun pada 2030 atau antara 24 hingga 41 persen dari produk domestik bruto (PDB) kita. Untuk itu, proses pengelolaan mangrove menjadi sangat penting,” imbuhnya.

Selanjutnya, pada pilar ketiga dijelaskan Yonvitner bahwa mangrove dapat memperkuat ketahanan bencana di wilayah pesisir. Baik bencana akibat hidrometeorologi seperti angin topan, siklon tropis, maupun bencana akibat dampak gempa bumi dan tsunami.

Pilar keempat adalah ketahanan ekonomi, yang fungsinya saat ini banyak, baik dari ekonomi langsung maupun ekonomi jasa ekosistem mangrove.

 “Banyak daerah pesisir memiliki mangrove yang menjadi daya tarik wisata. Selain itu, produk dan komoditas mangrove juga menghasilkan produk turunan yang sangat potensial,” jelasnya.

Pilar kelima adalah ketahanan iptek. Menurut Yonvitner, sebenarnya kawasan mangrove merupakan ruang belajar. Program Kampus Merdeka yang dapat didorong dengan menjadikan kawasan mangrove sebagai stasiun dan laboratorium lapangan untuk pendidikan tinggi.

“Pengembangan penelitian tropis di kawasan mangrove akan mampu menarik peneliti internasional untuk melakukan penelitian di Indonesia. Inilah yang menjadi daya tarik pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara lain,” paparnya.

Baca Juga: PKSPL IPB University Sebut Lima Pilar Ketahanan yang Bisa Dicapai Dengan Ekosistem Mangrove
Restorasi Ekosistem Mangrove Bekal untuk Mitigasi Bencana

Yonvitner menambahkan, pendekatan penguatan kesadaran dan peran mangrove dapat dilakukan dengan membangun kerjasama berbagai stakeholder, pendekatan berbasis masyarakat (desa) dan berbasis bukti yang dapat diandalkan.

“Dengan demikian, langkah untuk menjadi ekosistem kita sebagai ruang pendidikan masa depan akan terwujud,” pungkas Yonvitner.

 

Video Terkait