Kebun Tanaman Bioenergi Simpan Kenakeragaman Hayati Lebih Tinggi Dari pada Tanaman Pangan

Ilustrasi kebun di pekarangan (Foto: Pixabay)

Editor: M Kautsar - Jumat, 12 November 2021 | 18:20 WIB

Sariagri - Sebuah studi yang dipimpin oleh University of Southampton menemukan bahwa keanekaragaman spesies lebih besar ditemukan pada pertanaman tanaman bioenergi dibandingkan pertanaman tanaman pangan.

Para peneliti menganalisis data dari sekitar 4.000 studi berbasis lapangan untuk menetapkan tren keseluruhan dari keanekaragaman hayati untuk berbagai jenis tanaman yang ditanam secara komersial.

Hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters tersebut menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati meningkat sebanyak 75 persen setelah perubahan penggunaan lahan dari komoditas pertanian berbasis pangan menjadi tanaman bioenergy non-pangan. Keanekaragaman hayati yang ditemukan mencakup serangga, tumbuhan dan biota tanah.

Tanaman bioenergi non pangan yang diamati dalam studi tersebut di antaranya seperti rumput Miscanthus dan Switchgrass (Panicum virgatum) serta pohon willow (gandarusa) dan poplar. Para peneliti mengatakan tanaman tersebut meningkatkan keanekaragaman hayati skala pertanian dibandingkan dengan penggunaan lahan pertanian berbasis pangan.

Tiga alasan yang mendasari temuan tersebut dijelaskan peneliti yaitu karena berkurangnya intensitas pengolahan lahan, penyediaan fitur yang lebih mirip dengan ekosistem alami dan meningkatnya kompleksitas atau heterogenitas dalam lanskap.

“Sementara kekhawatiran telah dikemukakan tentang dampak keanekaragaman hayati dari bioenergi, penelitian sebelumnya hanya mempertimbangkan tanaman pangan bioenergi generasi pertama, atau konversi lahan alami. Studi kami adalah meta-analisis pertama yang mengevaluasi dampak keanekaragaman hayati dari menanam tanaman bioenergi non-pangan di lahan pertanian,” kata Caspar Donnison dikutip Phys.org.

Di samping itu, para peneliti juga menemukan bukti bahwa dampak visual dari tanaman bioenergi saat ini tidak menjadi perhatian utama publik, dan bahwa tanaman ini dapat menyesuaikan diri dan bahkan meningkatkan daya tarik visual suatu lanskap. Meskipun basis buktinya terbatas dan riset lebih lanjut diperlukan.

Baca Juga: Kebun Tanaman Bioenergi Simpan Kenakeragaman Hayati Lebih Tinggi Dari pada Tanaman Pangan
Begini Strategi Indonesia untuk Capai FoLU Net Sink 2030

Peneliti lainnya, Gail Taylor menyebutkan hasil studi tersebut berguna bagi pembuat kebijakan, bahwa keanekaragaman hayati skala pertanian dapat didukung dengan perluasan lanskap tanaman bioenergi.

“Meskipun ada potensi risiko yang terkait dengan ukuran lahan yang besar dari jenis tanaman ini. Selain itu, mengenai dampak pada jasa ekosistem budaya, keterlibatan publik lebih lanjut diperlukan untuk menentukan dampak visual dan penerimaan publik di komunitas lokal,” kata Gail Taylor.

Video Terkait