Banjir Bandang Malang Raya, 128 Ekor Hewan Ternak Hilang dan Rumah Rusak

Banjir Bandang Malang Raya. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 10 November 2021 | 23:00 WIB

Sariagri - Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menilisik penyebab terjadinya banjir bandang yang menerjang Bumiaji, Kota Batu serta Kota/Kabupaten Malang Jawa Timur, pada Kamis siang (4/11/2021) pekan lalu.

Selain diakibatkan karena tingginya intensitas curah hujan pada waktu itu, juga dikarenakan hilangnya vegetasi hutan di kawasan hulu atau lereng Gunung Arjuno.

Penyebab seperti pembalakan liar dan pembukaan lahan hutan menjadi alih fungsi permukiman, pertanian hingga peristiwa kebakaran menjadi kompleksnya persoalan yang menggunung hingga bermuara terjadinya banjir bandang.

Kepala divisi pengelolaan hutan perum Perhutani,  Bambang Juriyanto mengatakan sejak tahun 2005, pihaknya sudah melaksanakan moratorium terkait praktek penebangan hutan, terutama di kawasan hutan lindung. Langkah ini dirasa sebagai awal dari perlindungan perambahan hutan  atau pembalakan liar yang masih banyak terjadi di kawasan hutan lindung.

“Upaya penghentian praktek penebangan hutan, sayangnya belum seiring dengan kesadaran masyarakat. Pada sejumlah titik di lereng gunung arjuno kota batu, banyak ditemukan lahan yang dahulunya merupakan hutan dengan vegetasi beragam kini justru beralih fungi sebagai pemukiman dan kebun sayur atau bunga, “ beber  Kepala divisi pengelolaan hutan perum Perhutani,  Bambang Juriyanto kepada Sariagri, Rabu (10/11/2021).

Karena itu, lanjutnya diperlukan upaya untuk membangunkan kembali kesadaran untuk reboisasi atau penanaman kembali untuk kawasan hutan yang telah kehilangan vegetasi.

“Melalui pembinaan warga yang telah melakukan pembukaan lahan hutan diharapkan tumbuh kesadaran untuk mewujudkan penanaman kembali atau reboisasi. Penanam ini bisa berupa pohon pinus hingga mahoni untuk mencegah terjadinya longsor, “ imbuhnya.

Selain program reboisasi, Perum Perhutani juga akan segera menertibkan dan melakukan pembinaan para warga penggarap lahan agar mengembalikan fungsinya sebagai hutan tanaman keras pencegah banjir dan penyedia oksigen bagi makhluk hidup.

Nantinya, kata Bambang, Perum Perhutani bakal melakukan penghitungan data luasan lahan yang harusnya berfungsi sebagai hutan dan menjadi lahan pertanian.

“Saya kira langkah persuasif bakal menjadi cara terbaik dalam melakukan pendekatan menggugah kesadaran warga penggarap lahan. Arti penting kehadiran hutan sebagai lahan konservasi serta pencegah bencana alam banjir bandang dan longsor, “ ucapnya.

Bambang menyebutkan dari hasil identifikasi ada sekitar 600 hektar lahan hutan yang telah mengalami alih fungsi baik menjadi pemukiman hingga pertanian.

“Dari total 600 hektar tersebut, 100 hektar diantaranya merupakan lahan produksif  berisikan tanaman semusim, “ kata dia.

Sementara saat ini luasan lahan hutan di kawasan malang raya dan Blitar mencapai 9.000 hektar, dengan 6.000 hektar diantaranya berada di wilayah Kota Batu.

“Luasan lahan hutan 6.000 hektar di Kota Batu, rincian 2.900 hektar berupa hutan lindung dan 3.100 hektar merupakan hutan produksi, “ terangnya.  

Baca Juga: Banjir Bandang Malang Raya, 128 Ekor Hewan Ternak Hilang dan Rumah Rusak
Demi Sekolah, Pria di Polewali Ini Pikul Anak Lintasi Luapan Banjir Sungai

Selain membukaan lahan, lanjutnya, peristiwa Kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 2019 lalu, juga  turut memberikan andil terjadinya banjir bandang bumiaji Kota Batu, pekan lalu.

“Akibat bencana banjir bandang Bumiaji, data yang terkumpul di posko BPBD Kota Batu tercatat 124 kepala keluarga terdampak, 41 unit rumah rusak, 32 unit rumah terendam lumpur, 57 unit mobil dan motor rusak, 10 kandang dan 128 ekor ternak hilang, “ pungkasnya.

Video Terkait