Diperdagangkan, Tim Gabungan Kalbar Amankan 14 Kg Sisik Trenggiling di Dalam Karung

Barang bukti sisik trenggiling yang diamankan petugas di Kalimantan Barat.(KLHK)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 20 Oktober 2021 | 13:20 WIB

Sariagri - Tim Gabungan Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan dan Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Kalimantan menahan dua pelaku perdagangan sisik trenggiling di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

Penangkapan berawal dari informasi masyarakat mengenai adanya perdagangan sisik trenggiling di Nanga Pinoh, Kabulaten Melawi. Dari hasil penangkapan, tim berhasil menyita 14 kilogram sisik trenggiling yang disimpan dalam karung plastik warna putih, 1 sepeda motor dan 2 ponsel. Penyidik kemudian memeriksa SK (38) dan BW (33) di Kantor Balai Gakkum Wilayah Kalimantan, Seksi Wilayah III Pontianak.

“Hasil kajian valuasi ekonomi satwa dilindungi, setiap 1 kg sisik trenggiling membutuhkan 10 ekor trenggiling hidup. Jadi 14 kilogram sisik trenggiling yang disita itu berasal dari 140 ekor trenggiling hidup yang dibunuh dan dikuliti. Bisa dipastikan sisik trenggiling itu untuk pasar luar negeri,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Sustyo Iriyono, di Jakarta, Selasa (19/10/2021).

Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan, Eduward Hutapea mengatakan pihaknya akan melakukan penyelidikan mendalam terkait jaringan perdagangan sisik trenggiling tersebut, di mana dilarang oleh pemerintah.

Baca Juga: Diperdagangkan, Tim Gabungan Kalbar Amankan 14 Kg Sisik Trenggiling di Dalam Karung
Kisah Pelepasliaran Sun Ghou Kong ke Alam Liar

“PPNS Ditjen Gakkum bersama Korwas PPNS Polda Kalbar akan menyelidiki dan menyidik lebih jauh untuk mengungkapkan jaringan perdagangan sisik trenggiling, mulai dari perburuan sampai rantai perdagangannya, termasuk pembeli di luar negeri,” pungkasnya.

Berdasarkan dua alat bukti, penyidik Ditjen Gakkum KLHK, pelaku akan dijerat Pasal 40 Ayat 2 Jo. Pasal 21 Ayat 2 Huruf d Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Video terkait:

 

Video Terkait