Melalui Sedekah Sampah dan Jelantah, Berbagi untuk Warga Terdampak Covid-19

Warga mengumpulkan barang bekas untuk sedekah. (Foto: Sariagri/Pena Zun)

Editor: M Kautsar - Selasa, 14 September 2021 | 13:10 WIB

Sariagri - Masa pandemi belum juga berakhir. Namun di masa pandemi justru banyak menciptakan ide kreatif. Sepertinya itulah yang dilakukan warga di lingkungan RW 05 Kelurahan Karangklesem, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Kegiatan mereka ini sungguh inspiratif. Warga yang dipelopori oleh sang ketua RW masih mampu saling berbagi kepada warga yang tidak mampu.

Ketua RW, Sidik Fathoni menuturkan, ia mencoba menginisiasi membuat program Sedekah Jelantah dan Rongsok dari warga. Minyak jelantah dan rongsok sumbangan warga ini kemudian dijual ke pengepul dan hasilnya digunakan untuk memberikan bantuan kepada warga miskin yang membutuhkan bantuan.

Baca Juga: Melalui Sedekah Sampah dan Jelantah, Berbagi untuk Warga Terdampak Covid-19
Pemkot Bandung Dorong Tiap RW Miliki Pengelolaan Sampah Mandiri



Menurutnya, kegiatan untuk membantu warga yang terkena Covid-19 ini dilaksanakan sejak bulan April 2020. "Awalnya masih menggandeng donatur namun sejak akhir bulan Mei 2020, kami menggunakan model sedekah jelantah dan rongsok," kata Sidik.

Alumni Fakultas Hukum Unsoed ini sejak terpilih menjadi ketua RW memang memiliki banyak program pemberdayaan masyarakat. Salah satunya membantu warga di lingkungannya yang tidak mampu dan terdampak pandemi Covid-19. Selain untuk membantu warga, program ini juga dimaksudkan untuk mengubah kebiasaan warga sekitar yang kerap membuang minyak jelantah maupun sampah rongsokan.

Dengan model sedekah jelantah dan rongsok maka warga bisa ikut berkontribusi membantu tetangganya yang tidak mampu sekaligus bisa mengubah kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Dia menceritakan, awalnya membeli botol ukuran 1,5 liter pada tukang rongsok. Stikernya dibuang, ganti dengan stiker Sedekah Jelantah. Botol itu lalu ditaruh di dapur warga. Mereka akan mengisi minyak jelantah yang sudah tidak digunakan lalu jika sudah penuh disetorkan ke pengurus kelompok ini. "Dengan begitu maka minyak jelantah yang tadinya dibuang menjadi memiliki nilai jual," kata dia.

Selain botol untuk menampung minyak jelantah, pengurus juga membagikan karung kepada warga. Karung ini sebagai tempat warga mengumpulkan sampah plastik dan rongsok. Jika sudah penuh, warga tinggal menghubungi pengurus Sedekah Jelantah dan Rongsok untuk kemudian ditimbang.

Ketekunan pengurus Sedekah Jelantah dan Rongsok akhirnya membuahkan hasil. Bahkan warga di luar wilayah RW 05 pun ikut dalam program ini karena dinilai sangat bermanfaat.

"Awalnya, hanya tiga sampai empat jeriken per bulan, masing-masing berkapasitas 18 liter. Namun sekarang bisa mencapai tujuh hingga delapan jeriken per bulan karena warga di luar lingkungan RW 05 juga ikut berpartisipasi," katanya.

Jelantah yang telah terkumpul tersebut selanjutnya dijual ke pengepul di Klaten dengan harga Rp100.000 per jeriken. Minyak jelantah tersebut nantinya akan diolah menjadi biodiesel pada salah satu industri di Surabaya.

Selain melalui Sedekah Jelantah, kami ada sumber dana lain, yakni Sedekah Rongsok, Sedekah Kotak dengan menempatkan kotak amal di warung-warung warga RW 05, Sedekah Insidental, dan Sedekah Rutin. Tapi penopang terbesar saat ini adalah Sedekah Jelantah dan Sedekah Rongsok.

"Lalu kami gabungkan hasil penjualan jelantah tersebut digabungkan dengan uang hasil penjualan rongsok maupun kegiatan lainnya dan selanjutnya digunakan untuk membantu warga yang terkena Covid-19," tambahnya.

Sejak Program Wadaskelir Berbagi bergulir April 2020 sampai dengan Juni 2021 sudah merealisasikan dana senilai Rp47,5 juta. Dana tersebut telah disalurkan kepada 373 penerima manfaat yang dilakukan selama 14 tahap.

Video Terkait