Demi Sekolah, Pria di Polewali Ini Pikul Anak Lintasi Luapan Banjir Sungai

Demi sekolah tatap muka, siswa digendong orangtuanya menembus banjir. (Foto: Sariagri/Rifky)

Editor: M Kautsar - Selasa, 7 September 2021 | 17:30 WIB

Sariagri -  Pemerintah daerah menggelar sekolah tatap muka secara serentak, sejak Senin (6/9). Keputusan ini disambut antusias tidak hanya para siswa, namun juga para orang tua. Sebab, selama hampir dua tahun, anaknya hanya belajar daring di rumah.

Meski banjir dan longsor mengepung Polewali Mandar di berbagai lokasi, orang tua siswa tetap nekat menyeberangi sungai agar anaknya bisa sampai ke sekolah. Bahkan suami yang nekat mengantar anaknya ke sekolah menggendong atau memikul istri dan anaknya menyeberangi luapan banjir di sungai selebar 20 meter.

Bagi 500 kepala keluarga di Dusun Sandreko, Desa Tenggelang, Kecamatan Luyo, Polewali Mandar menyeberangi Sungai Sandreko lebih praktis ketimbang menaiki sepeda motor. Dengan moda transportasi itu, warga butuh mengemudi sekitar dua kilometer hingga ke sekolah.

Meski harus menembus banjir, salah seorang siswa, Arifuddin mengaku gembira bisa bersekolah tatap muka. Sebab, selama hampir dua tahun dia hanya di rumahnya saja dan tidak pernah bertemu dan bermain bersama teman-teman sekolahnya, termasuk gurunya di sekolah.

“Saya diantar bapak ke sekolah karena banjir di sungai,” tutur Arifuddin.

Sementara itu, jembatan yang menghubungkan antardesa itu rusak dan belum diperbaiki. Jembatan antardesa itu ambruk diterjang banjir bah beberapa tahun lalu.

Kepala Dusun Sandereko, Ilyas menjelaskan, tidak ada akses jalan lain terdekat menuju sekolah, sehingga para siswa, terutama saat musim banjir seperti saat ini nekat melintasi luapan banjir.

“Memang tidak ada akses jalan lain. Apalagi kalau sungai melupa seperti ini warga terisolasi di dusunnya,” kata Kepala Dusun Sandereko, Ilyas.

Baca Juga: Demi Sekolah, Pria di Polewali Ini Pikul Anak Lintasi Luapan Banjir Sungai
Ekonom: Ekspansi Industri di Jawa Barat Sudah Melebihi Kemampuan Daya Dukung Alam

Saat musim hujan seperti sekarang ini, Sungai Sandreko kerap meluap hingga ketinggian sekitar 1,6 meter. Warga berharap adanya pembangunan jembatan antardusun dan desa sehingga warga tak terisolir banjir. Selain begitu, mereka juga bisa leluasa menjual hasil bumi ke kota kapan saja.

Warga berharap perbaikan akses sjalan dan jembatan juga diniai warga bisa sangat membantu meningkatkan pendapatan ekonomi mereka. Pasalnya hasil bumi mereka kerap rusak lantaran akses jalan yang putus dan tidak dapat bepergian ke dusun tetangga atau ke kota kecamatan dan kabupaten.

Video Terkait