Ekosistem Mangrove Mampu Simpan Cadangan Karbon 4-5 Kali Lebih Besar

Rehabilitasi mangrove. (KLHK)

Editor: Arif Sodhiq - Senin, 26 Juli 2021 | 21:45 WIB

SariAgri - Ekosistem bakau (mangrove) di Indonesia sekitar 3,31 juta hektare atau 24 persen dari total mangrove dunia. Indonesia menjadi negara dengan sebaran tumbuhan bermarga Rhizophora terluas di dunia sekaligus sebagai pengendali perubahan iklim global.

Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Hartono mengatakan ekosistem mangrove memiliki kemampuan menyimpan cadangan karbon 4-5 kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Karena itu upaya perlindungan dan pelestarian mangrove Indonesia penting dilakukan.

Sayangnya, lanjut dia, sekitar 637 ribu hektare mangrove Indonesia masuk kategori kritis. Penyebab kerusakan karena terjadinya perubahan alih fungsi mangrove, seperti konversi tambak ilegal, perkebunan, permukiman serta penebangan mangrove untuk kayu bakar dan bahan baku arang.

Luasnya kerusakan mangrove itu mendorong pemerintah Indonesia melakukan upaya rehabilitasi mangrove. Komitmen itu terlihat dengan diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 1 Tahun 2020, di mana Badan Restorasi Gambut dan Mangrove diamanatkan untuk melakukan percepatan rehabilitasi mangrove di 9 provinsi prioritas.

Sembilan provinsi itu adalah Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua dan Papua Barat.

Luasan areal rehabilitasi mangrove yang akan dilakukan BRGM sekitar 637 ribu hektare sampai 2024. Untuk 2021, target rehabilitasi mangrove BRGM 43 ribu hektare dari 83 ribu hektare target nasional.

Menurut Hartono dalam siaran pers Hari Mangrove Sedunia, Senin (26/7/2021), upaya percepatan rehabilitasi mangrove tidak hanya memulihkan ekologi mangrove, tapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di areal hutan mangrove.

BRGM menggunakan pendekatan padat karya melalui penanaman bibit mangrove dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Hal itu karena masyarakat di areal mangrove berinteraksi secara langsung dan memiliki ketergantungan secara sosial dan ekonomi pada hutan mangrove.
Ketergantungan itu karena fungsi ekologi mangrove yaitu sebagai tempat berpijak aneka biota laut, penyerap polutan, mencegah intrusi air laut, mengikat sedimen dan melindungi garis pantai dari abrasi dan tsunami.

Hal tersebut menjadikan upaya percepatan rehabilitasi mangrove berbasis masyarakat penting dilakukan, katanya. Karenanya BRGM akan membangun Desa Mandiri Peduli Mangrove agar masyarakat diedukasi, diperkuat kelembagaannya, dan diberi akses untuk pendanaan dan kebijakan untuk mengelola ekosistem mangrove yang berkelanjutan.

Baca Juga: Ekosistem Mangrove Mampu Simpan Cadangan Karbon 4-5 Kali Lebih Besar
Suaka Margasatwa Muara Angke Akan Jadi Pusat Edukasi

Untuk memastikan keberlanjutan upaya rehabilitasi ini, BRGM terus mensinergikan program rehabilitasi mangrove dengan berbagai pihak seperti Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), pemerintah daerah serta mitra. Koordinasi dan sinkronisasi dilakukan juga untuk mendukung perencanaan makro dan mikro rehabilitasi mangrove di Indonesia.

Dia menambahkan upaya percepatan rehabilitasi mangrove yang dimulai Mei hingga Juli 2021 melalui penanaman bibit mangrove telah dilakukan di areal seluas 10.016 hektare. Upaya itu masih akan terus dioptimalkan agar target tahunan tercapai.

Video terkait:

Video Terkait