Uni Eropa Perkenalkan Paket Fit for 55, Diklaim Tak Pengaruhi Indonesia-UE CEPA

Taman energi angin di Schleswig-Holstein di perbatasan ke Denmark.

Editor: M Kautsar - Kamis, 22 Juli 2021 | 12:10 WIB

SariAgri - Uni Eropa, melalui kedutaan besar di Jakarta, memperkenalkan paket proposal "Fit for 55" di bawah Kesepakatan Hijau Eropa yang menargetkan benua tersebut menjadi kawasan yang netral iklim pada tahun 2050.

Duta Besar Uni Eropa (EU) untuk Indonesia, Vincent Piket, mengatakan bahwa proposal tersebut diluncurkan oleh Komisi Eropa, yang merupakan bagian eksekutif dari Uni Eropa, pada 14 Juli lalu.

“(Fit for 55) mencakup iklim, energi, penggunaan lahan, transportasi, perpajakan, semua elemen yang berkontribusi terhadap tujuan fundamental EU untuk memotong emisi gas rumah kaca, pertama sebanyak 55 persen pada tahun 2030, dibandingkan dengan level pada tahun 1990, dan tujuan dengan jangka yang lebih panjang untuk merealisasikan nol emisi karbon (net zero emission) pada 2050,” papar Vincent Piket, Rabu (21/7).

Dia menjelaskan bahwa paket tersebut berisi 13 proposal legislatif, di mana delapan peraturan yang telah berlaku lebih diperkuat lagi dan lima kebijakan baru diperkenalkan.

Paket ini juga mengarahkan agar Uni Eropa dapat mencapai target iklimnya pada tahun 2030 dengan cara yang adil, hemat biaya, dan kompetitif.

Selain itu, transisi menuju EU yang lebih hijau juga diharapkan untuk dapat menciptakan berbagai peluang, di mana paket itu juga mengusulkan berbagai cara untuk mendukung mereka yang rentan dengan mengatasi ketidaksetaraan dan kemiskinan energi.

Perombakan kebijakan tersebut selanjutnya akan membawa dampak terhadap kegiatan perdagangan internasional, sehingga EU perlu merancang mekanisme penyesuaian perbatasan karbon yang sejalan dengan peraturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan dengan kewajiban internasional lain yang dimiliki EU.

Meski demikian, kebijakan lingkungan melalui paket proposal ‘Fit for 55’ tidak akan membawa dampak pada proses negosiasi Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (Indonesia-EU CEPA).

“Tak akan ada dampak langsung terhadap negosiasi (Indonesia-EU CEPA), karena keberlanjutan telah berada dalam inti negosiasi CEPA,” kata Kepala Bagian Perdagangan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Marika Jakas.

Menurut Marika, terdapat bagian dalam negosiasi CEPA yang mencakup pembangunan berkelanjutan, sehingga perombakan kebijakan lingkungan EU melalui ‘Fit for 55’ tak akan berdampak pada negosiasi itu.

“Kita akan tetap pada posisi awal negosiasi, dan kami berharap agar dapat segera menyelesaikan ini secepatnya saat pandemi berakhir,” tambahnya.

Dia menjelaskan bahwa putaran ke-11 negosiasi kesepakatan tersebut seharusnya berlangsung pada bulan Juli ini, namun kegiatan tersebut ditunda mengingat kondisi pandemi di Indonesia dan terdapat sejumlah negosiator Indonesia yang terdampak.

Jika tujuan tersebut tercapai, maka Eropa akan menjadi benua netral iklim pertama di dunia.