Lepaskan 5Juta Ton Karbon Dioksida, Babi Hutan Diklaim Punya Andil Tingkatkan Perubahan Iklim

Ilustrasi Babi Hutan. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 21 Juli 2021 | 11:00 WIB

SariAgri - Babi liar ternyata punya andil dalam meningkatnya perubahan iklim. Sebuah studi terbaru melaporkan, babi liar bertanggungjawab melepaskan hampir lima juta ton karbon dioksida yang terperangkap di tanah setiap tahun.

Menurut studi yang diterbitkan di Global Change Biology itu, angka ini setara dengan karbon dioksida yang dihasilkan satu juta mobil, dan berkontrobusi pada perubahan iklim.

Sebuah tim peneliti, yang dipimpin oleh Christopher O'Bryan dari University of Queensland, menggunakan model populasi prediktif dan teknik pemetaan canggih untuk memperkirakan kerusakan iklim global babi hutan di lima benua.

Mereka menentukan bahwa, dalam menggali tanah, babi membantu melepaskan 4,9 juta ton karbon dioksida yang terperangkap, menjadikan hewan penyumbang signifikan terhadap perubahan iklim.

“Babi liar seperti traktor yang membajak ladang, membalik tanah untuk mencari makanan. Ketika tanah terganggu dari manusia yang membajak ladang atau, dalam hal ini, dari hewan liar yang mencabut (tanah), karbon dilepaskan ke atmosfer," ungkap O'Bryan, seperti dilaporkan Cosmos Magazine, belum lama ini.

“Karena tanah mengandung hampir tiga kali lebih banyak karbon daripada atmosfer, bahkan sebagian kecil karbon yang dipancarkan dari tanah berpotensi mempercepat perubahan iklim,"jelasnya.

Berdasarkan pemodelan yang dilakukan, babi loar secara global diperkirakan merusak dan mencabut area tanah seluas sekitar 36.000 hingga 124.000 kilometer persegi.

“Ini adalah jumlah lahan yang sangat besar, dan ini tidak hanya mempengaruhi kesehatan tanah dan emisi karbon, tetapi juga mengancam keanekaragaman hayati dan ketahanan pangan yang sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan,: tambah O'Bryan.

Membangun peta distribusi babi hutan yang ada, tim mensimulasikan 10.000 peta lainnya untuk memperkirakan total kepadatan babi global. Mereka kemudian memodelkan berapa banyak karbon yang akan terperangkap, dan kemudian dilepaskan, di seluruh area tanah yang akan diganggu oleh babi.

Ini termasuk daerah yang memiliki berbagai jenis vegetasi dan ketinggian, seperti padang rumput dataran rendah dan hutan subalpine. Baca Juga: Lepaskan 5Juta Ton Karbon Dioksida, Babi Hutan Diklaim Punya Andil Tingkatkan Perubahan Iklim
Setelah 20 Tahun, Penyakit Cacar Monyet Terkonfirmasi di AS



“Spesies invasif adalah masalah yang disebabkan oleh manusia, jadi kita perlu mengakui dan bertanggung jawab atas implikasi lingkungan dan ekologi mereka,” kata rekan penulis Nicholas Patton dari University of Canterbury.


“Jika babi invasif dibiarkan berekspansi ke daerah dengan karbon tanah yang melimpah, mungkin ada risiko emisi gas rumah kaca yang lebih besar di masa depan" tegas Patton.

Karenanya, ujar Patton, pengendalian babi hutan membutuhkan kerja sama dan kolaborasi di berbagai yurisdiksi.

“Jelas bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi untuk sementara, kita harus terus melindungi dan memantau ekosistem dan tanahnya, yang rentan terhadap spesies invasif melalui hilangnya karbon," katanya.

Video Terkait