Sempat Dianggap Mitos, Begini Penampakan Aktivitas Babirusa Maluku

Penampakan Babirusa Maluku. (Dok. KLHK)

Penulis: Tatang Adhiwidharta, Editor: admin - Jumat, 16 Juli 2021 | 13:30 WIB

SariAgri -  Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku berhasil merekam aktivitas Babirusa Maluku (Babyrousa babyrussa) di kawasan Suaka Alam Masbait, pulau Buru, Maluku. Kejadian tersebut menjadi bukti pertama penemuan atas survei intensif yang dilakukan sejak tahun 1995.

Sejak survey tersebut, belum pernah ditemukan Babirusa secara langsung kecuali jejaknya, sampai pada tahun 1997 dengan ditemukannya tengkorak Babirusa dari seorang pemburu di sekitar Gunung Kapalat Mada, Pulau Buru. Sehingga terkonfirmasi bahwa Pulau Buru sebagai salah satu habitat Babirusa.

Masyarakat setempat mengatakan bahwa mereka pernah menjumpai Babirusa di hutan-hutan pada perbukitan dan pegunungan. Mitos setempat menyatakan bahwa Babirusa akan muncul untuk menunjukkan jalan keluar bagi orang yang tersesat di dalam hutan.

Kepala Balai KSDA Maluku, Danny H Pattipeilohy menyatakan setelah penemuan tersebut selanjutnya akan direncanakan program kegiatan untuk konservasi Babirusa khususnya di Pulau Buru. Kegiatan yang akan dilakukan, lanjut dia, peningkatan patroli pengamanan, penyadartahuan masyarakat serta survey pakan di habitat.

“Selain itu rencananya akan dilaksanakan juga survei monitoring dengan pasang kamera trap di habitat Babirusa lainnyaseperti di Pulau Mangole dan Pulau Taliabu, untuk pembuktian langsung keberadaan babirusa Maluku,” ujarnya melalui keterangan resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jumat (16/7/2021).

Untuk diketahui, Babirusa merupakan satwa endemik Wallace, region ini dihuni 3 jenis Babirusa yaitu Babirusa Sulawesi (Babyrousa celebensis) yang sebarannya berada di Pulau Sulawesi, Babirusa Togean (Babyrousa togeanensis) menyebar di beberapa pulau di Kepulauan Togean, serta Babirusa Maluku (Babyrousa babyrussa).

Baca Juga: Sempat Dianggap Mitos, Begini Penampakan Aktivitas Babirusa Maluku
Viral Orangutan Masuk Pemukiman Warga, Netizen: Kasihan Habitatnya Rusak

Di habitat alaminya khususnya di Pulau Buru, populasi Babirusa Maluku terancam akibat perburuan liar baik untuk konsumsi maupun by-catch karena pemasangan jerat babi untuk eradikasi hama pertanian, serta akibat fragmentasi habitat karena berkurangnya hutan baik untuk tujuan penebangan komersial maupun akibat pembakaran antropogenik yang berulang.

Babirusa Maluku termasuk ke dalam Apendix I Cities, artinya dilarang untuk perdagangan baik dalam bentuk hidup atau mati, dan bagian-bagian serta produk turunannya. Satwa ini juga termasuk dalam daftar IUCN Red List sebagai jenis-jenis yang terancam punah dengan kategori Vulnerable.

 Video terkait:

Video Terkait