Maraknya Pembukaan Hutan di Asia Tenggara Meningkatkan Gas Rumah Kaca

Ilustarsi deforestasi. (pixabay)

Editor: Dera - Kamis, 15 Juli 2021 | 19:30 WIB

SariAgri - Kebutuhan akan lahan pertanian mendorong peningkatan pembukaan hutan-hutan di kawasan pegunungan Asia tenggara. Hasil studi para peneliti menunjukkan, pembukaan hutan untuk lahan pertanian menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca.

Tim peneliti termasuk akademisi Universitas Leeds mengatakan, lebih dari 400 juta metrik ton karbon dilepaskan ke atmosfer setiap tahun saat hutan dibuka di wilayah Asia Tenggara. Angka emisi ini terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Profesor Dominick Spracklen dari Sekolah Bumi dan Lingkungan Leeds mengungkapkan, hutan pegunungan di Asia Tenggara ini dahulu sering terhindar dari penebangan karena lereng yang curam dan ketinggian yang tinggi, namun kondisinya kini berbeda.

"Pekerjaan kami menunjukkan bahwa deforestasi sekarang telah pindah ke daerah pegunungan ini dan telah meningkat pesat dalam 10 tahun terakhir," ujarnya, seperti dikutip phys.org.

Hutan pegunungan di Asia Tenggara menurut Spracklen, luar biasa kaya akan keanekaragaman hayati dan merupakan penyimpan karbon yang penting, sehingga sangat mengkhawatirkan ketika melihat batas deforestasi sekarang bergerak ke atas wilayah pegunungan.

"Hilangnya hutan-hutan ini akan menjadi pukulan telak bagi alam dan akan semakin mempercepat perubahan iklim," imbuhnya.

Para peneliti menemukan bahwa pembukaan hutan di pegunungan Asia Tenggara mengalami peningkatan luar biasa selama abad ke-21, hingga mencapai sepertiga dari total hilangnya hutan di wilayah tersebut. Pembukaan perkebunan baru terutama mendorong deforestasi di dataran tinggi ini.

Menurut data satelit resolusi tinggi, rata-rata kehilangan hutan di wilayah Asia Tenggara mencapai 3,22 juta hektare per tahun selama 2001-2019, dengan 31% di antaranya terjadi di pegunungan.

Selama dekade terakhir, ketinggian rata-rata hilangnya hutan meningkat 150 m dan berlanjut ke lereng yang lebih curam yang memiliki kerapatan karbon hutan yang tinggi dibandingkan dengan dataran rendah.

Pergeseran ini menyebabkan hilangnya karbon hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya sebesar 424 juta metrik ton karbon per tahun, tetapi pada tingkat yang semakin cepat dalam beberapa tahun terakhir.

Profesor Joseph Holden dari Sekolah Geografi Leeds mengatakan, hilangnya hutan di daerah pegunungan yang lebih tinggi di Asia Tenggara selama 20 tahun terakhir harus menjadi perhatian serius, mengingat daerah ini juga merupakan zona terkonsentrasi spesies sensitif, di mana persediaan karbon tinggi.

Baca Juga: Maraknya Pembukaan Hutan di Asia Tenggara Meningkatkan Gas Rumah Kaca
Gubernur Sumut Lepaskan Burung Peliharaan, Warganet: Direhabilitasi Dulu Pak

Penelitian ini sendiri dipimpin oleh Associate Professor Zhenzhong Zeng di Southern University of Science and Technology (SUSTech) di Shenzhen, Cina. Mereka menemukan bahwa kehilangan karbon akibat pembukaan hutan terutama terjadi di dataran rendah pada tahun 2000-an, misalnya di Indonesia.

Namun pada tahun 2010-an, kehilangan karbon hutan dataran rendah menurun, sementara kehilangan karbon hutan pegunungan di wilayah seperti Myanmar dan Laos meningkat secara signifikan. Hasil studi ini telah diterbitkan di Nature Sustainability.

Video Terkait