Gubernur Sumut Lepaskan Burung Peliharaan, Warganet: Direhabilitasi Dulu Pak

Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi dan burung peliharaannya. (Foto: Instagram)

Editor: M Kautsar - Rabu, 14 Juli 2021 | 15:00 WIB

SariAgri - Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi membagikan video rekaman melepasliarkan burung yang dia pelihara. Aksi itu dia bagikan ke Twitter pribadinya @RahmayadiEdy.

“Ratusan burung ini tadinya saya beli, beberapa juga saya rawat di rumah,” tulis Edy.

Edy menyebut pelepasan burung-burung itu agar mereka dapat hidup bebas.

“Akhirnya ketika dirasa sudah siap, mereka semua saya lepas agar bisa hidup bebas di alamnya,” ucap dia.

Beberapa warganet memuji aksi yang dilakukan Edy.

Masya Allah. Pak Jenderal. Semoga bapak & keluarga sehat-sehat dan terus dalam lindungan Allah SWT,” ucap warganet.

Semoga bisa menjadi suatu gerakan untuk membebaskan burung-burung lain yang masih dikurung di kandang yang sempit,” kata dia.

“Sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu. HR. Abu Dawud dan Timidzi,” ucap dia.

Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi dan burung peliharaannya.
Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi dan burung peliharaannya.

Meski demikian ada pula warganet yang mengingatkan Edy bahwa itu tak bisa melepaskan burung begitu saja.

“Tapi dari sekian yang dilepas belum tentu hidup dan nyaman pak, karena sudah terbiasa makan yang disiapin, lebih direhabilitasi dulu ke lembaga konservasi pak, sehingga benar-benar bisa survive ketika dilepas. Tapi salut bapak mau release,” ucap warganet itu.

Dia juga menyertakan tautan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur mengenai mekanisme pelepasliaran satwa liar.

Di laman tersebut setidaknya ada lima langkah pelepasliaran satwa liar yaitu, pertama, harus diusulkan terlebih dahulu kandidat yang telah memenuhi syarat untuk dilepasliarkan. Tahap kedua adalah merencanakan kegiatan pelepasliaran satwa.

Sementara itu tahap ketiga yaitu survei lapangan. Tahap keempat adalah pemeriksaan akhir kondisi kesehatan satwa. Tahapan kelima, pengajuan rekomendasi dari KKH-PHKA atau BKSDA setempat, pada tahap ini dilampirkan pula rekomendasi dari Dinas Peternakan dan LIPI.

Setelah semua persiapan telah dilakukan maka satwa calon release diberangkatkan ke lokasi pelepasan. Setelah tiba di lokasi pelepasliaran satwa dimasukkan ke dalam kandang pelepasan sebelum akhirnya dilepasliarkan, hal ini dimaksudkan untuk adaptasi awal satwa calon release dengan kondisi lingkungan barunya.

Kegiatan berikutnya setelah satwa dilepasliarkan adalah monitoring pasca pelepasliaran. Kegiatan ini dilakukan secara periodik, namun awalnya minimal 3-4 bulan untuk memastikan home range-nya, selanjutnya dilakukan setiap bulan selama minimal 1 tahun atau lebih, atau dapat menentukan pola periodik yang lain. Data hasil monitoring pasca pelepasliaran kemudian dievaluasi dan dilaporkan untuk menentukan rencana tindak lanjut yang akan dilakukan berikutnya.

Video Terkait