Unej Sukseskan Pendataan Burung Air dan Pantai Indonesia

Kagiatan sensus burung air. (Foto: Sariagri/Arief L)

Editor: M Kautsar - Selasa, 6 Juli 2021 | 21:30 WIB

SariAgri - Pandemi Covid-19, tak menyurutkan semangat tim Universitas Jember (Unej) Jawa Timur dalam mensukseskan kegiatan Asian Waterbird Census (AWC). Kali ini untuk kedua kalinya di tahun 2021, Kelompok Studi Ornithology Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember kembali terjun memonitoring burung pantai Indonesia dan pendataan burung air.

Dosen pembimbing Kelompok Studi Ornithology, Abdu Rohman mengatakan Asian Waterbird Census merupakan bagian dari International Waterbird Census (IWC) yang bersifat global, yaitu kegiatan tahunan.

“IWC dilakukan setiap tahun, termasuk AWC Indonesia yang menjadi bagian didalamnya dengan melakukan sensus burung air asia yang dilaksanakan di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung pemutakhiran data serta peningkatan kapasitas dan penyadartahuan publik tentang nilai penting burung air dan habitatnya di Indonesia,” kata Abdu Rohman.

Kegiatan ini, imbuhnya, menjadi salah satu perangkat bagi upaya konservasi burung air serta lahan basah sebagai habitatnya dengan melibatkan para sukarelawan.

Data dan informasi tersebut kemudian digunakan sebagai rujukan estimasi populasi burung air secara global maupun untuk keperluan pengelolaan di tingkat nasional/lokal, tidak kurang dari 5 juta kilometer persegi.

Status sejumlah 871 jenis burung air kemudian dikaji secara ilmiah untuk menentukan kegiatan pengelolaannya.

“Di Indonesia, data mengenai populasi digunakan sebagai acuan untuk pengelolaan beberapa Taman Nasional penting, penentuan lokasi penting untuk Konvensi Ramsar dan East Asian Australasian Flyway Partnership serta penentuan status jenis-jenis yang dilindungi,“ urainya.

Abdu Rohman menuturkan sejak tahun 1986, Yayasan Lahan Basah/Wetlands International Indonesia telah mengkoordinasi pelaksanaan program Asian Waterbird Census (AWC) di seluruh Indonesia.

Pada tahun 2021 ini, imbuhnya kegiatan citizen science AWC Indonesia berkolaborasi dengan kegiatan Monitoring Burung Pantai Indonesia (MoBuPi) serta secara bersama-sama diselenggarakan oleh Yayasan Lahan Basah/Wetlands International Indonesia, Yayasan Ekologi Satwa Alam Liar Indonesia, Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia, dan Burungnesia.

Dalam monitoring ini tercatat beberapa jenis burung air diantaranya dara laut biasa (Sterna hirundo), dara laut kecil (Sternula albifrons), dara laut jambul (Thalasseus bergii), trinil pantai (Actitis hypoleucos), cerek jawa (Charadrius javanicus), kuntul karang (Egretta sacra), kuntul kecil (Egretta garzetta), blekok sawah (Ardeola speciosa).

“Selain itu terdapat jenis burung lain yang teramati diantaranya, Cekaka sungai, Raja udang meninting, merbah cerucuk, Layang-layang asia, Walet Linci, Bondol Jawa, Cinenen kelabu, “ kata Abdu Rohman.

Dia mengatakan kehadiran jenis dan jumlah burung air tahun ini lebih sedikit dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya beberapa faktor yang membuat kehadiran burung dilokasi ini lebih sedikit karena tingginya aktivitas di sekitar area persinggahan burung pantai.

“Seperti lalu lalang kapal nelayan, pencari ikan dengan menjaring di sepanjang muara dan pantai membuat adanya gangguan terhadap kehadiran burung air di sekitar pesisir pantai selatan Puger, Getem, kemudian ditambah adanya aktivitas wisata baru di pantai cemara oleh wisatawan lokal yang berdatangan menyebabkan berkurangnya jenis burung karena berpindah,“ kata dia.

Video Terkait