Dituduh Abaikan Aspek Keberlanjutan, Ini Penjelasan Toba Pulp Lestari

Ilustrasi kawasan hutan yang menjadi kawasan konsesi PT Toba Pulp Lestari Tbk (Istimewa)

Penulis: Yoyok, Editor: Arif Sodhiq - Senin, 5 Juli 2021 | 12:40 WIB

SariAgri - Perusahaan terbuka nasional dan produsen pulp, PT Toba Pulp Lestari Tbk memastikan seluruh kegiatan operasional patuh terhadap aturan yang  ditetapkan oleh regulator, baik yang terkait dengan lingkungan maupun  sosial ekonomi masyarakat.

Direktur Toba Pulp Lestari (TPL), Jandres Silalahi mengatakan hal itu untuk  membantah berbagai tudingan sejumlah pihak mengenai kegiatan operasional  yang diklaim tidak memerhatikan aspek keberlanjutan (sustainability).

“Sebagai perusahaan terbuka yang sahamnya dicatatkan di Bursa Efek  Indonesia, TPL menjalankan kegiatan operasional secara professional dan  sesuai dengan aturan dan perundangan yang berlaku,” kata Jandres kepada media, Senin (5/7).

TPL hingga saat ini memiliki area pengelolaan hutan dengan luas gross mencapai 167.912 hektare. Dari jumlah luasan tersebut, perusahaan hanya mengalokasi sebanyak 70.074 hektare (42 persen) untuk Tanaman Pokok atau tanaman produksi. Sementara sisanya seluas 55.316 hektare (33 persen) dialokasikan untuk Tanaman Kehidupan (tanaman pangan kemitraan dengan masyarakat setempat), dan 42,522 (25 persen) sebagai Kawasan Lindung.

Meskipun perusahaan telah mengalokasikan 70.074 hektare untuk Tanaman Pokok/tanaman produksi, namun realisasi lahan yang dimanfaatkan hanya mencapai 48.000 hektare. Ini karena didalam merealisasikan kebutuhan tersebut, TPL harus memperhatikan aspek-aspek sosial, topografi, lingkungan serta aspek-aspek sustainability yang telah menjadi komitmen Perusahaan;  seperti area yang memiliki stok karbon tinggi (High Carbon Stock/HCV) dan area dengan nilai konservasi tinggi (High Convservation Stock/HCS).

“Perusahaan tidak akan melakukan pengembangan terhadap daerah yang masuk kategori HCS dan HCV yang dalam hal ini adalah kawasan hutan lindung,” jelas Jandres.

Selain itu, Toba Pulp Lestari juga konsisten untuk selalu memperhatikan aspek sosial dan ekonomi masyarakat setempat, yang menjadi lokasi operasional perusahaan.

Bekerjasama dengan pemangku kepentingan setempat baik dengan tokoh masyarakat, pemuda dan wanita maupun aparat pemerintah terkait, TPL telah berhasil menyelesaikan sejumlah isu sosial yang terkait dengan lahan dengan berpedoman pada Permen LHK No.83 tahun 2016 tentang Perhutanan Sosial.

“Pendekatan kemitraan ini merupakan solusi terbaik karena terbukti memberi manfaat yang berkelanjutan dan pasti, khususnya buat masyarakat, pemerintah setempat maupun negara,” ujar Jandres.

Toba Pulp Lestari juga konsisten mengalokasikan dana untuk Community Development (CD) sebesar 1 persen dari pendapatan. Dana ini dialokasikan untuk pendampingan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang ada di sekitar perusahaan.

Baca Juga: Dituduh Abaikan Aspek Keberlanjutan, Ini Penjelasan Toba Pulp Lestari
Keren! Keanekaragaman Hayati Sungai Wain Diabadikan dalam Buku



Persentase dana Community Development tersebut jauh lebih besar jika dibandingkan perusahaan-perusahaan lain yang biasanya mengalokasikan dari laba bersih.

"Dana CD digunakan untuk pendidikan dan budaya, investasi sosial, dan kemitraan. Kemudian, dalam rangka kemitraan, upaya yang dilakukan perusahaan adalah melakukan kerja sama kemitraan bisnis dengan masyarakat lokal dan memberikan pelatihan keterampilan kepada masyarakat dan juga memberikan modal usaha," pungkas Jandres.

Video Terkait