RI Jadi Proyek Percontohan Integrasi Teknologi Nuklir pada Limbah Plastik

Ilustrasi Sampah Plastik di Laut. (Unsplash)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 19 Mei 2021 | 13:50 WIB

SariAgri - International Atomic Energy Agency (IAEA) tengah mengembangkan program Nuclear Technology for Controlling Plastic Pollution (NUTEC Plastic). Program ini untuk mendukung negara-negara dalam mengintegrasikan teknologi nuklir dan turunannya dalam menjawab permasalahan limbah plastik.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mewakili Indonesia menjadi Pilot Country bagi 3 fase demonstration project NUTEC Plastic di antaranya penguatan penanganan limbah plastik di sektor hilir, pembangunan demo plant dan upstreaming pemanfaatan teknologi iradiasi penanganan limbah plastik.

Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan Indonesia berkomitmen mengurangi timbulnya sampah plastik, termasuk di laut. Dalam kurun waktu 3 tahun, lanjut dia, sampah plastik laut telah berkurang dari 615 ribu ton pada 2018 menjadi sekitar 521 ribu ton pada Desember 2020.

"Artinya total sampah plastik laut di Indonesia berkurang sebesar 15,3% baik untuk kegiatan di darat maupun yang berbasis di laut. Kami akan terus meningkatkan upaya untuk mengurangi jumlah timbulan sampah sebesar 25,9% pada akhir tahun 2021 dan sebesar 38,5% pada akhir tahun 2022," ujarnya.

Hal itu disampaikan Menteri LHK dalam IAEA High Level Round Table Discussion for The Asia and the Pacific Region ‘NUTEC Plastic: Atoms Contributing to the Search for Solutions to Plastic Pollution’, Selasa (18/5/2021).

Siti Nurbaya mengungkapkan pada 2020-2024 Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) akan mengkaji dan melakukan penelitian pengembangan komposit plastik yang terbuat dari serat selulosa dan mikroplastik radio-trace serta radioekologi akuatik.

"BATAN sejak lama telah berkolaborasi dengan IAEA dalam penggunaan energi nuklir untuk penggunaan damai yang kemudian menjadikan IAEA menunjuk BATAN sebagai pusat kolaborasi untuk makanan dan industri. Selanjutnya, BATAN akan terus mengkaji dan meneliti komposit plastik kayu dengan menggunakan serat berbasis kelapa sawit," ungkapnya.

Menteri LHK mengapresiasi IAEA atas program NUTEC Plastic yang bertujuan membantu negara-negara di kawasan Asia Pasifik dalam mengintegrasikan teknologi nuklir untuk pengelolaan sampah plastik.

Inisiatif ini akan semakin mendukung strategi daur ulang plastik untuk menjawab tantangan dan permasalahan sampah plastik secara komprehensif dari hulu ke hilir dengan memberikan inovasi teknologi untuk mengolah sampah plastik menjadi produk antara yang selanjutnya dapat digunakan untuk bahan industri, menciptakan inovasi baru untuk industri plastik ramah lingkungan.

Baca Juga: RI Jadi Proyek Percontohan Integrasi Teknologi Nuklir pada Limbah Plastik
Kampung Iklim Tempat Memulai Gaya Hidup Ramah Lingkungan

"Dalam konteks ini, izinkan saya meyakinkan kesiapan Indonesia untuk menjadi salah satu proyek percontohan yang ditawarkan IAEA, karena kami melihat manfaat proyek ini dalam meningkatkan kapasitas untuk mengendalikan teknologi radiasi dan memperkuat kemampuan sumber daya manusia di tingkat nasional," tandasnya.

Untuk diketahui, tujuan utama program NUTEC Plastic untuk meningkatkan kesadaran global atas meningkatnya jumlah timbulan dan dampak limbah plastik di lautan. Selain itu, program ini juga bertujuan meningkatkan metode produksi dan daur ulang plastik melalui penggunaan teknik radiasi sebagai komplemen atas praktik produksi yang telah ada.

Video Terkait