Kerusakan Lingkungan Semakin Parah, Bali bangun Kembali Ekowisata Mangrove

Penanaman 1.000 Bibit Manggrove Bersama-sama dengan 20 relawan Umat Budha dari Permabudhi Bali. (IRI)

Editor: Reza P - Jumat, 30 April 2021 | 11:50 WIB

SariAgri - Kerusakan lingkungan hidup sudah semakin mengkhawatirkan. Beberapa waktu lalu Pantai Kuta yang merupakan salah satu andalan pariwisata Bali sempat mengalami "banjir sampah" yang tentunya mencoreng pariwisata Bali di mata dunia internasional.

Namun kini Bali sebagai salah satu destinasi wisata populer di Indonesia mulai memperbaiki potensi wisatanya, meski hantaman pandemi COVID-19 masih belum mereda.

Melalui Prakarsa Lintas Agama (IRI Indonesia) bekerja sama dengan majelis organisasi umat Hindu Indonesia, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), kembali mengingatkan umatnya khususnya umat Hindu melalui Sosialisasi Bhisama.

Adapun tujuan dari sosialisasi ini supaya umat Hindu di Bali bersama dengan masyarakat Bali seluruhnya, kembali menjaga harmoni yang sudah terbangun sejak lama dalam menjaga ekosistem sesuai adat Bali yang menjaga keselarasan beragama yg diterapkan sehari-hari.

Salah satu upaya yang saat ini dilakukan adalah dengan melestarikan wilayah desa wisata yang memiliki ekosistem mangrove.

Saat ini ada tiga wilayah di Bali yang memiliki ekosistem mangrove yaitu Denpasar , Serangan dan Kedonganan. Namun baru wilayah di Denpasar yang sudah dikembangkan menjadi ekowisata. Potensi hutan mangrove yang dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata sangat terbuka lebar.

"Potensi hutan mangrove di Kedonganan bisa dijadikan ekowisata seperti Raja Ampat dimana turis bisa menikmati suasana hutan mangrove yang damai, dan jamuan makan laut yang fresh dari nelayan Kedonganan,"ujar Direktur Program IRI Indonesia Hanafi Guciano dikutip dari keterangan yang diterima di Jakarta.

Wayan Mertha selaku Ketua Desa Adat Kedonganan menyebutkan bahwa masih ada banyak potensi eco-pariwisata di wilayah Kedonganan yang belum pulih akibat terjangan pandemi COVID-19.

Wilayah pantai barat Kedonganan yang menyuguhkan restoran serta kafe dengan aneka hidangan laut mengalami keterpurukan akibat pandemi. Beberapa bahkan sudah harus gulung tikar dari awal Augustus 2020.

"Bersyukur pantai timur sebagai penghasil ikan dan potensi laut menjadi tulang punggung perekonomian desa Kedonganan," ujar Wayan Mertha.

I Gusti Komang, salah satu nelayan asli Kedonganan terpaksa berhenti melaut ketika virus corona menerjang Bali. Komang kemudian menjadi pembersih pantai selama dua bulan, yang kemudian memberikan pencerahan bagaimana desa seharusnya memiliki pengolahan sampah plastik.

Baca Juga: Kerusakan Lingkungan Semakin Parah, Bali bangun Kembali Ekowisata Mangrove
Menikmati Sejuknya Hutan Suak Parak Mangrove yang Ada di Tengah Kota

"Delapan ton plastik sudah terkumpul di sepanjang pantai dari Jimbaran sampai Kedonganan, seharusnya bisa dijadikan pendapatan," kata Komang.

Menurut Komang, jika lembaga desa dapat menginisiasi pengolahan plastik bekas maka berton-ton plastik sampah itu bisa menjadi mata pencaharian baru yang menambah perekonomian desa dan mensejahterakan warga.