Penemuan Burung Pelanduk Kalimantan Setelah 172 Tahun Menghilang

Burung Pelanduk Kalimantan (Foto:KLHK)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 3 Maret 2021 | 09:00 WIB

SariAgri - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menemukan kembali burung endemik asal pulau Kalimantan setelah 172 tahun tidak terlihat. Penemuan burung Pelanduk Kalimantan tersebut bermula dari laporan warga yang menemukan satwa tersebut di Kawasan Hutan di Batulicin, Kalimantan Selatan.

PEH Pertama Balai Taman Nasional Sebangau, Teguh Willy Nugroho menjelaskan berdasarkan beberapa literatur burung Pelanduk Kalimantan dapat ditemukan di daerah Kalimantan bagian selatan, bahkan ada yang menyatakan secara spesifik bisa ditemukan di daerah Banjarmasin.

“Burung ini penyebarannya endemik di Kalimantan, statusnya rentan namun kebiasaan dan perilakunya tidak diketahui. Bahkan ada beberapa pakar menyatakan bahwa burung ini masuk sebagai jenis burung pelanduk alas,” ujarnya.

Teguh mengungkapkan dalam meneliti temuan burung tersebut timnya menemukan beberapa kesulitan, dimana burung pelanduk yang diawetkan dengan aslinya memiliki ciri berbeda mulai dari warna iris mata, warna paruh dan warna kaki.

“Kami tim disini kebingungan karena asumsi bahwa burung yang ditemukan adalah pelanduk Kalimantan tetapi nyatanya dengan awetan berbeda, dari pola iris mata, warna paruh dan warna kaki, dan beberapa literatur juga menyatakan warna kaki itu warna pink,” jelasnya.

Namun, lanjut Teguh dalam media briefing KLHK kemarin, dari awetan tersebut ternyata terdapat artificial eye yang menyebabkan adanya kesalahan data seperti keterangan warna mata dan kesalahan warna lainnya. Sebagai informasi, setelah diambil foto dari berbagai sisi burung tersebut segera dilepasliarkan kembali ke hutan.

Baca Juga: Penemuan Burung Pelanduk Kalimantan Setelah 172 Tahun Menghilang
NTT Jadi Tuan Rumah Hari Konservasi Alam Nasional 2021

Sementara itu, Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Wiratno mengapresiasi penemuan burung endemik Pelanduk Kalimantan. Menurut dia, perlu mengamankan daerah-daerah penemuan tersebut karena kerap terjadi penyelundupan burung keluar daerah.

“Komitmen saya binatang itu sejahtera hidup di alam itu, kalau mati di alam lebih baik daripada mati di LK atau mati ditembak orang. Saya ucapkan terima kasih pada tim penemu burung pelanduk Kalimantan, ini menunjukkan leadership yang kuat di UPT,” tandasnya.