Cegah Banjir, Peneliti ITS Ajak Masyarakat Lestarikan Sungai dan Gunung

Banjir terdampak kepada aktivitas warga. (Foto: Sariagri/Arief L)

Editor: M Kautsar - Rabu, 17 Februari 2021 | 15:30 WIB

SariAgri - Sejak awal 2021, bencana banjir menimpa berbagai daerah di Indonesia. Bahkan hingga Selasa (16/2) lalu, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) banjir telah terjadi sebanyak 243 kali.

Curah hujan yang tinggi disebut-sebut sebagai penyebab utama banjir yang melanda. Namun nyatanya hujan bukan satu-satunya penyebabnya.

Analisa tersebut disampaikan peneliti bencana dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Amien Widodo. Menurut dia, umumnya sebuah kota sudah didesain agar dapat menghadapi hujan terbesar yang pernah terjadi untuk menghindari banjir. 

Kapasitas saluran air untuk menampung curah hujan yang digunakan oleh sebuah kota bisa mencapai lima hingga 50 tahun. Bahkan bisa menggunakan perencanaan 100 tahun jika tersedia ruang dan biaya yang cukup.

“Berdasarkan curah hujan tersebut, akan dihitung dan dibuat saluran penampung air hujan dengan dimensi menyesuaikan debit banjir yang akan terjadi,” kata Amien kepada Sariagri, Rabu (17/2).

Saluran penampung air tersebut dapat berupa tanggul waduk, bozem, atau rawa yang dibangun di berbagai tempat untuk menampung luapan sungai. Selain itu, untuk mempercepat penurunan muka air banjir, dipasang pompa-pompa air dan juga biasanya dilakukan pengerukan sedimen sungai, rawa, atau bozem untuk mencegah sedimentasi.

“Perencanaan yang telah dilakukan pemerintah itu bisa berjalan sebagaimana mestinya jika masyarakat juga mendukung dan mematuhi peraturan yang dibuat untuk menjaga saluran air,” tutur peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS ini mengingatkan.

Namun sayangnya, lanjut Amien, saluran air yang telah dibuat tidak terjaga dengan baik seiring dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk kota. Menurut keterangan dosen Teknik Geofisika ini, berkurangnya lahan membuat masyarakat mulai merambah dan bermukim di tepi sungai serta pinggiran sekeliling bozem. Mereka bahkan menjadikan sungai dan bozem tersebut sebagai tempat pembuangan sampah sehari-hari.

Mirisnya, pembuangan sampah pada saluran air juga banyak dijumpai di pemukiman biasa maupun di pemukiman elit. 

“Ini sangat memprihatinkan karena hampir semua elemen masyarakat masih ada yang membuang sampah sembarangan, pada akhirnya saat hujan mengguyur mulai banyak saluran yang meluap dan membanjiri seluruh kota,” kata dia.

Tidak menutup kemungkinan, apabila hal ini terus menerus dibiarkan dapat mengakibatkan tanggul jebol. Seperti halnya pada kasus banjir Bandarkedungmulyo, Jombang yang baru-baru ini.

“Banjir Bandarkedungmulyo ini disebabkan jebolnya tanggul karena tidak kuat menahan luapan air, yang mana diakibatkan oleh debit air Sungai Konto Jombang yang tertahan oleh penumpukan kayu, pohon, dan sampah di pintu air Gudo,” ucap dia. 

Amien pun mengungkapkan penumpukan sampah di Pintu Air Gudo sebenarnya sudah diketahui masyarakat beberapa hari sebelumnya. Tetapi, karena tidak segera dilakukan tindakan maka terjadilah tanggul jebol.

“Melalui kejadian ini, kita belajar perlunya dibangun jalur komunikasi khusus antara masyarakat di sekitar sungai dengan pihak pengelola sungai,” urainya.

Dia menambahkan, kerja sama berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk ikut mengawasi sungai dan tanggul sungai, terlebih lagi pada posisi puncak musim hujan seperti saat ini. Tak hanya itu, Amien juga menerangkan tanda-tanda khas dari tanggul rawan jebol, yang mana biasanya ditunjukkan beberapa hari sebelum musim hujan datang.

Tanda tersebut antara lain yaitu adanya retakan baik sejajar maupun memotong tanggul.

“Jika retakan tersebut sampai ke dasar tanggul bisa diikuti rembesan air di tubuh, dasar, atau pondasi di bawah tanggul. kemudian rembesan ini bisa membesar diikuti proses erosi yang menggerus tanah tanggul searah retakan tanggul,” paparnya. 

Lebih lanjut, Amien menerangkan gerusan erosi yang terjadi ini dapat semakin melebar dan dalam ketika hujan mengguyur. Retakan yang sejajar tanggul bisa diikuti longsor di bagian dalam, luar, dan juga dasar tanggul.

“Oleh sebab itu, jangan sampai muka air sungai naik hingga sejajar tanggul maupun over topping atau air melimpah melebihi tanggul, itu menandakan keadaan sudah serius dan harus segera dilaporkan,” tandasnya.

Untuk menghindari terulangnya bencana banjir, Amien berujar pemerintah harus member sosialisasi secara terstruktur, sistemik, dan masif. 

Terstruktur artinya seluruh pihak khususnya yang bermukim di sekitar sungai diberi pemahaman tentang pentingnya menjaga dimensi sungai agar tetap seperti yang direncanakan. 

Untuk sistemik maksudnya adalah dengan menjaga kebersamaan semua pihak dalam satu unit kesatuan untuk menjaga sungai.

“Sangat disarankan pihak berwenang seperti Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) membuat sistem peringatan dini terhadap berbagai masalah di sungai, sehingga masyarakat bisa langsung melaporkan bila ada masalah dan dapat segera direspon, serta ditindaklanjuti,” ucap dia menyarankan. 

Oleh karena itu, Amien mengajak masyarakat agar lebih sadar untuk menjaga dan mengembalikan fungsi utama sungai dan hutan di gunung sebagai pencegah banjir. 

“Waktunya pemerintah bersama masyarakat meningkatkan kapasitas dalam mengelola bencana, saya harap apabila terjadi bencana kita dapat tangguh menghadapinya, serta semuanya selamat dan bisa saling menyelamatkan,” kata dia.

Video Terkait