Laporan Khusus: Mangrove, Penyelamat Bumi dari Ancaman Besar Krisis Iklim

Mangrove penyelamat bumi (Sariagri/Faisal Fadly)

Editor: Dera - Sabtu, 10 Desember 2022 | 17:00 WIB

Sariagri - Ancaman krisis iklim hingga saat ini masih menjadi momok paling "menakutkan" di dunia. Perubahan iklim bisa berdampak pada musnahnya makhluk hidup hingga rusaknya bumi. 

Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut krisis iklim lebih "mengerikan" dibandingkan pandemi Covid-19, yang bisa menjadi ancaman besar bagi lingkungan, ketahanan pangan, ekonomi, maupun sistem keuangan suatu negara. 

Beruntung, Indonesia menjadi salah satu pemilik hutan mangrove terbesar di dunia, yang bisa berperan penting dalam memitigasi perubahan iklim. Bak harta karun tak ternilai, hutan mangrove dinilai mampu menyimpan dan menyerap karbon 4-5 kali lebih banyak dari hutan tropis daratan.

Negara dengan kepulauan terbesar ini pun berkomitmen penuh di dalam Paris Agreement untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 persen melalui upaya sendiri, atau 41 persen melalui dukungan internasional pada tahun 2030. 

Guna mewujudkan hal tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan mandat kepada Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) untuk mempercepat rehabilitasi mangrove seluas 600.000 hektare hingga tahun 2024.

Kondisi mangrove Indonesia (Sariagri/Faisal Fadly)
Kondisi mangrove Indonesia (Sariagri/Faisal Fadly)

Jalan Terjal Pemulihan Ekosistem Mangrove

Tak berjalan mulus, proses percepatan rehabilitasi mangrove ternyata tak semudah membalikan telapak tangan. BRGM pun tak menampik jika beberapa kali upaya yang dilakukan kerap mengalami kegagalan. 

"Masyarakat itu kebiasaan untuk menebang tapi tidak menanam, sehingga ketika melakukan penamaman rehabilitasi mangrove terkendala dari skill mereka, seperti penanaman bibit dan lainnya, nah itu seharusnya diajari dulu, tapi waktu kita terbatas sehingga prakteknya acak-acakan," ujar Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Kerja sama Hukum dan Hubungan Masyarakat BRGM Didy Wurjanto, kepada Sariagri, Sabtu (10/12/2022). 

"Yang paling penting lagi itu, ketika kami tanam disapu ombak, makanya lokasi penanaman itu juga sangat penting jangan sampai ombak gampang menyapu mangrove yang sudah ditanam. Banyak contoh siang ini ditanam besok sudah habis disapu ombak, lalu yang hidup kena penyakit, belum lagi sanitasinya berkurang karena airnya tergenang sebab sudah ada campur tangan manusia di luarnya, misalnya bangunan, sehingga sirkulasi air laut tidak lancar," sambung Didy. 

Meski ada beberapa catatan evaluasi, namun pada 2021, BRGM berhasil melampaui target rehabilitasi mangrove di sembilan provinsi prioritas dari 33.000 hektare menjadi 34.911 hektare. 

9 Provinsi prioritas rehabilitasi mangrove 2021 (Sariagri/Faisal Fadly)
9 Provinsi prioritas rehabilitasi mangrove 2021 (Sariagri/Faisal Fadly)

Namun, terbatasnya anggaran seakan menjadi permasalahan baru bagi BRGM dalam mempercepat rehabilitasi mangrove di Indonesia. Target rehabilitasi mangrove pada tahun 2022 pun menurun drastis yaitu seluas 3.584 hektare. 

"Anggaran itu kan tidak awal tahun, jadi tengah tahun baru siap, nah akhir tahun itu musim pasang, jadi bekerja-nya itu kadang harus malam, itu kan bahaya, baik dari segi transportasi, pengangkutan, sehingga berpengaruh terhadap kualitas mangrove yang kita tanam," ujar Didy. 

Seakan belajar dari tahun sebelumnya, BRGM terus berupaya agar mangrove yang ditanam dapat berkelanjutan dan juga memberikan dampak ekonomi yang menguntungkan bagi masyarakat.

Lembaga nonstruktural yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden itu pun memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan ekosistem mangrove melalui Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM).

"Belajar dari tahun kemarin, learning by doing, bekerja sambil membenahi kerja kita yang kurang untuk ke depan lebih baik lagi. Pokonya mangrove harus tumbuh. BRGM tidak sekadar bekerja sama masyarakat untuk menanam saja, tapi juga memelihara, berarti kan masyarakat harus diberikan pengertian bahwa mangrove bermanfaat, tidak saja untuk perlindungan kawasan mereka hidup tapi juga menguntungkan secara ekonomi," tegas Didy.

Senada dengan hal tersebut, Guru Besar IPB University dari Departemen Silvikular Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Prof Dr. Cecep Kusmana mengatakan bahwa partisipasi masyarakat menjadi tantangan berat dalam menjaga dan mengelola eksositem mangrove. 

"Ada masyarakat yang sudah siap lalu ada yang belum, bahkan ada yang justru menginginkan mangrove dijadikan tambak saja. Namun adapula masyarakat yang sudah melihat mangrove ini bisa mengatasi abrasi, ini beda-beda persepsinya. Jadi intinya bagaimana mengarahkan masyarakat ini untuk memelihara mangrove secara mandiri, dan itu tidak mudah," ungkap Cecep kepada Sariagri, Jumat (10/12/2022). 

Perlindungan Mangrove

Di sisi lain, Direktur program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Imran Amin menilai apabila pemerintah ingin mengurangi emisi sebaiknya tidak hanya terfokus pada rehabilitasi mangrove tapi juga bagaimana melakukan upaya perlindungan agar ekosistem mangrove ini bisa sustainable.

"Urusan mangrove ini bukan hanya masalah kita memperbaiki hutan mangrove tapi juga bagaimana kita melindungi hutan-hutan mangrove yang tersisa. Sebagian besar hutan mangrove kita tidak terlindungi. Bukan rehabilitasi tidak penting, tapi penyelamatan mangrove itu tidak hanya rehabilitasi," ujar Imran kepada Sariagri, Jumat (9/12/2022). 

Dari hasil penulusurannya di lapangan, pihaknya menemukan kegiatan rehabilitasi mangrove hanya sekadar menanam saja, tetapi tidak ada perencanaan bagaimana rehabilitasi itu bisa berkelanjutan.

"Kami melihat banyak pihak bukan hanya dari pemerintah tapi swasta juga yang namanya rehabilitasi mangrove namanya hanya sekadar tanam-tanam mangrove. Program tanam mangrove ini harus didasari oleh sebuah perencanaan atau desain bagaimana restorasi itu dibuat, bagaimana rehabilitasi itu dibuat, artinya sebelum kita melakukan penanaman mangrove seharusnya kita buat masterplan dulu bagaimana sih yang cocok, jenis mangrove-nya apa, itu sebagian kita tidak punya perencanaan," cetus Imran. 

"Jadi semua serba instan, nah kami melihat ini tidak boleh, jangan buang-buang duit. Kalau tanaman mangrove ini kalau tidak cocok metodenya dan jenisnya itu tidak akan bertahan lama, artinya itu akan sia-sia tidak ada sustainability. Untuk perencanaan yang baik kita harus lakukan berdasarkan pertimbangan sains yang kuat, makanya kami buat penelitian hidrologinya bagaimana rekrutmen alam dari mangrove di sana seperti apa," pungkasnya. 

Imran menegaskan, mangrove memainkan peran penting dalam memenuhi target pengurangan emisi untuk mitigasi perubahan iklim Indonesia. Hutan mangrove dapat berkontribusi sebanyak 6% dari pengurangan emisi di sektor kehutanan yang dinyatakan dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.

"Mangrove ini punya fungsi yang sangat baik sekali untuk menyimpan dan menyerap karbon, jadi beberapa penelitian menunjukkan bahwa kalau mangrove ini kita tahan laju degradasinya, NDC 29% itu bisa dicapai hanya dari penyelamatkan mangrove dan memperbaiki mangrove yang rusak, artinya tanpa melakukan apapun hanya menyelamatkan mangrove dan memperbaiki mangrove itu NDC 29% tercapai," ungkapnya. 

Pusat Mangrove Dunia

Meski tak mudah memperbaiki ekosistem mangrove, namun Presiden Jokowi bersikukuh ingin menjadikan Indonesia sebagai Pusat Mangrove Dunia. 

"Indonesia harus memainkan peran penting, bagaimana negara ini bisa menjadi leader upaya perlindungan penyelamatan mangrove. Ternyata pemerintah sendiri menginisiasi ini dan acungkan jempol kepada Pak Presiden karena pentingnya untuk menjadi Pusat Mangrove Dunia," puji Imran. 

"Dengan pemerintah menggabungkan ini agar dana global mau melindungi mangrove, ya uangnya ke Indonesia, karena Indonesia yang paling besar. Ini yang menjadi penting untuk kita dukung sebenarnya," tambahnya. 

Namun pihaknya menyebut pemerintah harus membuat framing yang jelas untuk menjadi Pusat Mangrove Dunia.

"Ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama, Indonesia harus benar-benar dijadikan tempat pembelajaran bagaimana melakukan rehabilitasi mangrove. Kedua, dijadikan tempat pembelajaran untuk perlindungan mangrove. Dan Ketiga, bagaimana mangrove itu bisa diolah dan dimanfaatkan.

Potensi Mangrove Indonesia

Menilik soal potensi mangrove, FAO menyebut keanekaragaman jenis mangrove yang terdapat di Indonesia sangat tinggi dan menjadi pusat keanekaragaman hayati dunia. Adapun jenis-jenis tanaman mangrove yang biasanya ditemukan di Indonesia yaitu Avicennia, Rhizophora, Sonneratia, Bruguiera dan Ceriops.

Jenis-jenis mangrove di Indonesia (Sariagri/Faisal Fadly)
Jenis-jenis mangrove di Indonesia (Sariagri/Faisal Fadly)

Tak hanya mampu mengatasi perubahan iklim, mangrove juga memiliki peran luar biasa bagi kehidupan manusia maupun ekonomi pesisir. Formasi vetegasinya yang tebal, rapat dan berlapis-lapis, mampu menjadi benteng pertahanan alami yang bisa melindungi kawasan pantai dari abrasi hingga tsunami.

Baca Juga: Laporan Khusus: Mangrove, Penyelamat Bumi dari Ancaman Besar Krisis Iklim
Selain Melindungi Pesisir, Mangrove Jaga Ketersediaan Sumber Makanan Rakyat

Habitatnya yang unik menjadikan mangrove sebagai rantai makanan yang lengkap. Tanaman ini berperan sebagai produsen yang banyak disukai oleh biota laut maupun satwa liar yang menggantungkan hidup dengan memakan daun tanaman bakau. Sementara hasil perikanan yang melimpah tersebut bisa menjadi sumber pangan sekaligus sumber ekonomi bagi manusia. 

Tak hanya itu saja, seluruh bagian dari tanaman mangrove seperti batang, kulit batang, daun hingga buahnya juga bisa diolah menjadi berbagai macam produk yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.

Manfaat hutan mangrove bagi kehidupan (Sariagri/Faisal Fadly)
Manfaat hutan mangrove bagi kehidupan (Sariagri/Faisal Fadly)

"Menyelamatkan ekosistem mangrove merupakan salah satu ikhtiar untuk menyelamatkan kehidupan".

Reporter: Rashif Usman

Grafis: Faisal Fadly