Dilanda Kekeringan, Masyarakat Pegunungan Andes Berdoa Mohon Hujan

Pegunungan Andes dilanda kekeringan. (Ist)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 29 November 2022 | 17:45 WIB

Di daerah pedesaan Tihuanacu, sekitar 100 kilometer barat daya kota dataran tinggi La Paz di Bolivia, penduduk setempat mengatakan hanya ada sedikit hujan musim di seluruh wilayah Andes karena pola cuaca La Nina ketiga berturut-turut.

“Ketika kami mengangkat tangan, kami meminta Tuhan mengampuni dosa-dosa kami dan meminta hujan untuk tanaman kami, karena di ladang kami tidak memiliki air, juga untuk ternak,” kata Quispe, yang naik ke bukit bersama masyarakat untuk berdoa meminta hujan.

Di sekitar Bolivia, banyak daerah telah menyatakan keadaan darurat karena kekeringan. Badan Meteorologi dan Hidrologi Nasional Bolivia memperkirakan kondisi itu akan berlangsung hingga 2023 setelah intensitas La Nina berkurang.

Selain Bolivia, kekeringan juga melanda areal pertanian di di Argentina, Paraguay, dan Peru. Quispe bersama penduduk lainnya mendaki bukit Lloco Iloco dengan gembala evangelis mereka untuk meminta hujan dari Tuhan dan dewa asli gunung Aymara, atau Achachilas. Mereka mengangkat tangan ke langit sambil berlutut.

Situasi serupa juga terjadi tepat di seberang perbatasan Bolivia dengan Peru.

“Matahari menyengat, sangat kuat, orang bahkan tidak bisa berjalan lagi, panas di pedesaan bahkan lebih buruk, dan kami juga tidak memiliki air,” kata Rosa Sarmiento dari Desaguadero di Peru, seperti dikutip Reuters.

Menurutnya, semua orang merasa sangat khawatir. Di wilayah Andes, kekeringan dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan turunnya tingkat penampungan air di berbagai tempat seperti Chili.

Kekeringan melanda berbagai tanaman seperti gandum dan kedelai, termasuk tahun ini dialami oleh produsen biji-bijian utama Argentina. Di desa Zapana Jayuma di Bolivia, ladang gersang menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat kepanasan.

Baca Juga: Dilanda Kekeringan, Masyarakat Pegunungan Andes Berdoa Mohon Hujan
Kemarau Basah Pengaruhi Harga Cabai di Kaltim

Tanahnya sangat kering dan kami belum bisa menanam kentang, buncis, atau ubi jalar, kata Cecilia Aruquipa, pengelola komunitas di daerah tersebut.

Kondisi panas yang sangat kuat dan membakar menyebabkan penduduk tidak tahan dan mereka memilih pergi ke tempat yang teduh.