Jangan Anggap Enteng, Serangga Berperan Jaga Keseimbangan Ekosistem Hutan

Ilustrasi hutan. (Foto: Unsplash)

Editor: Yoyok - Minggu, 13 November 2022 | 15:00 WIB

Sariagri - Serangga memiliki hubungan keterikatan rantai makanan terhadap individu pohon yang berada di hutan. Serangga juga berfungsi sebagai indeks perubahan parameter tertentu seperti kandungan oksigen, pH, salinitas, kandungan kelembaban tanah, pemadatan tanah, dan konsentrasi kontaminan yang terakumlasi dalam jaringan serta perubahan lingkungan yang lebih luas. 

“Sebagai bagian dari ekosistem hutan, serangga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan melalui perannya sebagai produsen, konsumen, dan dekomposer,” ujar Guru Besar IPB University, Prof Noor Farikhah Haneda seperti dikutip ipb.ac.id, Minggu (13/11/2022).

Ia melanjutkan, serangga parasitoid dan predator merupakan serangga yang memiliki peranan penting dalam pengendalian hama secara biologis yang aman bagi lingkungan. Tidak hanya itu, serangga penyerbuk pada penyerbukan tanaman dan industri sutera mampu memberikan pendapatan yang mencengangkan. 

Dosen Departemen Silvikultur IPB University ini menerangkan, perubahan alam dari hutan asli menjadi hutan tanaman industri ternyata berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati dan memunculkan permasalahan hama. 

Noor Farikhah menerangkan adanya inang yang melimpah akibat dari penanaman jenis yang monokultur menyebabkan hama memiliki sumber makanan yang melimpah.

“Sudah banyak kasus serangan hama di beberapa hutan yang dikelola secara monokultur. Sebagai contoh, serangan Hyblaea puera menyebabkan kerusakan serius pada tegakan jati di Jawa,” kata Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University ini.

Ia juga mencontohkan, spesies Neotermes tectonae yang menyerang batang dan cabang jati mampu menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan. Tidak hanya itu, tegakan mahoni juga terserang oleh penggerek pucuk Hypsipyla robusta. Hal serupa juga terjadi pada tanaman sengon. Tanaman tersebut diserang oleh penggerek batang sengon Xystrocera festiva yang mampu menyebabkan kematian pada tegakan sengon. 

“Serangan hama sampai dengan saat ini tetap menjadi masalah krusial dalam setiap pengusahaan hutan,” kata Noor Farikhah.

Ia juga menyebut, masalah hama tanaman berorientasi pada kepentingan manusia, sehingga pengembangan ilmu pengetahuan tentang aspek pengelolaan hama masih terus dikembangkan. Hal tersebut termasuk pengembangan pengetahuan tentang resistensi tanaman terhadap serangan hama. 

Noor Farikhah mengungkapkan sedikitnya ada tiga mekanisme resistensi tanaman terhadap serangan hama yaitu antixenosis (ketidaksukaan), toleran, dan antibiosis. Mekanisme antibiosis merupakan mekanisme resistensi tanaman yang penting dan mulai diteliti untuk mendapatkan klon baru yang tahan (resisten) terhadap hama.

“Rangkaian penelitian sudah dilakukan untuk mendapatkan klon sengon unggul tahan hama boktor. Tanaman sengon yang resisten, memiliki nilai rata-rata pertumbuhan awal tanaman yang lebih tinggi daripada tanaman sengon yang rentan,” katanya.

Baca Juga: Jangan Anggap Enteng, Serangga Berperan Jaga Keseimbangan Ekosistem Hutan
Keanekaragaman Hayati Terancam, Peneliti IPB Dorong Pemanfaatan Lestari SDA

Ia menerangkan, hasil penelitian ini memberikan harapan baru, bahwa penggunaan spesies tanaman yang resisten terhadap serangan hama dapat terus dikembangkan untuk jenis lain. Rekayasa klon sengon resisten terhadap hama boktor telah mendapat penghargaan 104 Inovatif Paling Prospektif 2012.

“Adanya pengelolaan hama secara terpadu dapat menjaga keseimbangan ekosistem hutan dengan terus menjaga keseimbangan serangga, baik yang berperan sebagai serangga fitofag (hama), maupun serangga-serangga bermanfaat yang lain di dalam suatu ekosistem,” pungkasnya.