Mengenal Kayu Hitam, Komoditas Penghasil Cuan dari Sulawesi

Ilustrasi kayu hitam (Istimewa)

Penulis: Tanti Malasari, Editor: Dera - Jumat, 4 November 2022 | 08:00 WIB

Sariagri - Siapa yang tak mengenal kayu hitam? Kayu yang juga dikenal dengan nama kayu eboni ini adalah jenis kayu yang tak kalah populer dari yang lainnya. Diketahui, kayu ini berasal dari Pulau Sulawesi dan dapat tumbuh tinggi mencapai 40 meter dengan diameter hingga 100 cm.

Kayu ini memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai bahan pembuatan furniture, bahan kerajinan tangan, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan jenis kayu satu ini dikenal memiliki kualitas yang baik. Tak heran jika harganya tergolong tinggi di pasaran.

Spesifikasi kayu hitam

Secara umum, kayu hitam didominasi oleh warna cokelat kemerah-merahan dan juga hitam serta memiliki bentuk strip yang lebar. Ciri-ciri kayu hitam yang asli sendiri dapat dikenali dari warnanya yang tidak teratur dengan guratan serta terdapat bercak-bercak acak.

Sementara tekstur kayu ini sangat halus dengan serat kayu lulus atau sedikit berpadu. Permukaan kayu ini licin dan tampak sempurna tanpa banyak dipoles.

Berdasarkan data yang ada, kayu ini banyak dihasilkan dari Pulau Sulawesi. Hal ini dikarenakan pohon eboni yang memiliki nama ilmiah Diospyros Celebica berasal dari Sulawesi. Bahkan beberapa orang menyebut kayu ini dengan nama Makassar ebony.

Secara spesifik, pohon kayu ini banyak ditemukan di daerah Donggala, Poso dan Parigi yang merupakan daerah di Sulawesi Tengah. Selain itu persebarannya meluas meliputi daerah Gowa. Baru, Maros, Sidrap dan Luwu yang berada di Sulawesi Selatan.

Di Sulawesi Barat bisa ditemukan di daerah Mamuju dan sebagian besar Gorontalo. Namun, pohon kayu yang memiliki nilai ekonomi tinggi berada di Poso, Parigi dan Donggala.

Memiliki corak yang berbeda

Tahukah kamu sebenarnya kayu hitam memiliki corak yang berbeda. Namun kayu hitam yang berasal dari Sulawesi Tengah menjadi salah satu jenis kayu yang memiliki corak yang sangat indah. Hal dikarenakan kayu hitam ini memiliki teras kayu berwarna hitam dengan garis kemerah-merahan.

Selain itu, ada juga kayu hitam asal dari Donggala yang memiliki BD 0,98 dengan warna kayu gubal putih kelabu hingga cokelat muda kemerah-merahan. Ciri khas teras kayunya terdapat corak garis-garis sejajar berwarna cokelat dan juga hitam berselang-seling dengan pola garis.

Namun di balik corak yang berbeda ini ternyata juga menentukan kualitas dari kayu hitam itu sendiri. Strip pada kayu hitam juga menentukan kualitas dari kayu tersebut. Jika memiliki strip lurus, sejajar, tipis serta interval teratur maka kayu ini memiliki kualitas baik.

Baca Juga: Mengenal Kayu Hitam, Komoditas Penghasil Cuan dari Sulawesi
Menteri Lingkungan Resmi Mundur Gara-gara Gagal Penuhi Stok Kayu Bakar

Memiliki harga yang mahal

Biasanya pengelompokan kualitas kayu ini memiliki manfaat untuk dilakukan tujuan pengiriman ekspor. Pasalnya jika strip kayu tidak sesuai kriteria maka kayu hitam ini tidak bisa diekspor.

Ditambah lagi banyaknya permintaan kayu hitam untuk diekspor membuat keberadaannya semakin langka Hal inilah yang membuat keberadaan kayu hitam semakin terancam punah. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kayu hitam dijual dengan harga sangat mahal, yaitu Rp120 juta rupiah untuk satu meter kubik kayu hitam.