Sssttt! Indonesia Kaya Getah Pinus, Ternyata Miliki Potensi Ekspor

Ilustrasi getah pinus (Istimewa)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 22 September 2022 | 13:30 WIB

Sariagri - Indonesia memiliki getah pinus yang berpotensi untuk diekspor. Sayangnya, baru 1,19% komoditi ini dimanfaatkan untuk produksi.

"Kami mendapat informasi bahwa total getah pinus seluruh Indonesia kurang lebih mencapai 8.412.726 ton. Nilai tersebut didominasi oleh tegakkan pinus yang ditanam di wilayah Jawa yang telah dikelola oleh perum Perhutani dengan potensi mencapai 7,1 juta ton getah pinus," ujar Analis Kebijakan Ahli Muda Pusat Kebijakan Ekspor Impor & Pengamanan Perdagangan Naufa Muna dalam dalam Diseminasi Hasil Analisis Badan Kebijakan Perdagangan, Kamis (22/9/2022).

"Kami juga melihat mengenai produksi getah pinus, ternyata di tahun 2020 itu hanya sebesar 100 ribu ton atau hanya 1,19% dari potensinya," sambungnya.

Dari data tersebut, Naufa menyampaikan bahwa ada permasalahan pengelolaan getah pinus, paraktis hasil produksinya belum setara dengan total yang semestinya.

Dia menyebut, permasalahan pertama adalah terkait pengetahuan petani terhadap teknik penyadapan masih rendah dan kurangnya sosialisasi serta pelatihan penyadapan, terutama di luar pulau Jawa.

"Sehingga menyebabkan produktivitas menjadi rendah," jelasnya.

Di sisi lain, getah pinus baru bisa dipanen dalam kurun waktu 10 tahun. Sehingga penyadapan getah pinus di luar Pulau Jawa masih mengandalkan pinus alam dan pinus hasil tanaman rehabilitasi tahun 1990-an.

Kemudian, ada potensi penyadapan ilegal, dan pengurangan lahan hutan pinus karena alih fungsi lahan dan atau pergantian komoditas lain.

"Selain itu struktur biaya produksi turunan getah pinus yang masih mengandalkan harga bahan baku murah menyebabkan keberlanjutan kegiatan usaha pinus menjadi belum terjamin," papar Naufa.

Naufa juga menerangkan, apabila getah pinus ini bisa diolah secara maksimal, bisa menyumbang ekspor nasional. Sebab, ekspor Indonesia terkait getah pinus dan turunannya cukup berdaya saing di pasar dunia.

"Indonesia adalah eksportir 3 besar dunia untuk HS 13 01 90 90 di mana di dalamnya terdapat produk getah pinus. Kemudian Indonesia juga eksportir peringkat pertama terbesar dunia untuk HS 38 06 10 00 di mana terdapat gondorukem di dalamnya. Sementara produk terpentin dari olahan getah pinus ada di peringkat kedua terbesar di dunia untuk HS 38 05 10 00 di mana terpentin ada di dalam HS tersebut," bebernya.

Kemudian, pada hasil analisisnya, ia menyoroti kebijakan internasional dan kebijakan domestik yang mengatur ekspor getah pinus. Menurutnya, untuk kebijakan internasional, larangan ekspor getah pinus tidak disarankan kecuali untuk kekurangan bahan makanan atau produk penting lainnya.

Baca Juga: Sssttt! Indonesia Kaya Getah Pinus, Ternyata Miliki Potensi Ekspor
Cara Jepang Tingkatkan Ekspor Produk Peternakan dan Pertanian

Tetapi, terkait pembatasan ekspor atau bea keluar dapat dilaksanakan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Sementara untuk kebijakan domestik, perlu dilakukan justifikasi kepentingan nasional terhadap getah pinus. Kemudian kedua, kebijakan pembatasan ekspor dalam bea keluar dimungkinkan untuk diterapkan.

"Karena di PP No, 55 Tahun 2007 Pasal 2 ayat 2 ditegaskan bahwa tujuan pengenaan bea keluar untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dalam negeri," pungkasnya.

Video Terkait