Ilmuwan Asing: Industri Tambang RI Penghancur Hutan Terbesar

Ilustrasi - Kegiatan pertambangan.(Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 13 September 2022 | 18:30 WIB

Sariagri - Sebuah penelitian asing mengungkapkan Indonesia menjadi satu dari empat negara yang bertanggung jawab atas penghancuran hutan tropis terbesar, terhitung sejak 2000 hingga 2019.

Tanggung jawab tersebut diungkap dalam penelitian yang diterbitkan pada 12 September 2022 di Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. Dalam penelitian tersebut, Indonesia bersama Brasil, Ghana, dan Suriname telah menjadi babat hutan tropis terbesar di dunia untuk membangun industri batu bara, emas, hingga bijih besi.

Keempat negara itu total menyumbang sekitar 80 persen deforestasi untuk pertambangan. Sementara, setidaknya 70 persen deforestasi dilakukan untuk membuka lahan pertanian.

Menukil dari CNA, Selasa (13/9/2022), secara keseluruhan ada 26 negara yang bertanggung jawab atas sebagian besar deforestasi hutan tropis dunia sejak 2000. Namun, perusakan hutan untuk industri tambang didominasi oleh Brasil, Indonesia, Ghana dan Suriname.

Kerugian terbesar terjadi di Indonesia. Di negara ini, tambang batu bara di Pulau Kalimantan telah diperluas demi memenuhi permintaan bahan bakar dari China dan India.

Para ilmuwan menyebut pertambangan industri juga berkembang karena meningkatnya permintaan global untuk mineral seperti tembaga, lithium, dan kobalt. Adapun mineral tersebut akan digunakan dalam teknologi energi bersih guna memerangi perubahan iklim.

Salah seorang ilmuwan dari penelitian itu Anthony Bebbington mengatakan transisi energi di sisi lain memang membutuhkan mineral dalam jumlah besar.

"Transisi energi akan membutuhkan mineral dalam jumlah yang sangat besar untuk teknologi dekarbonisasi," ujar pria yang juga seorang ahli geografi di Clark University di Massachusetts.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan mempelajari citra satelit global dan data pelacakan hilangnya hutan. Selain itu, ilmuwan juga memanfaatkan informasi lokasi untuk operasi pertambangan skala industri dari dua dekade terakhir.

Operasi penambangan seringkali membuka hutan. Hal ini dilakukan guna memberi ruang bagi perluasan lokasi ekstraksi dan fasilitas penyimpanan tailing. Tak hanya itu, pembukaan hutan juga dilakukan untuk membangun jalan akses dan pemukiman bagi para penambang.

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengklaim terdapat penurunan luas deforestasi netto hingga 75,03 persen, yakni mencapai 115,45 ribu hektare 2019-2020 jika dibandingkan dengan periode 2018-2019, yakni 462,46 ribu hektare.

Adapun angka deforestasi bruto 2019-2020 mencapai 119,1 ribu hektare. Turun dari 2018-2019 yang mencapai 465,5 ribu hektare. Bahkan, Menteri LHK Siti Nurbaya mengklaim laju deforestasi ini menjadi yang terendah sepanjang sejarah.

KLHK pun terus melakukan upaya untuk mencegah deforestasi, seperti Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) seluas 264 ribu hektare pada 2021.

Baca Juga: Ilmuwan Asing: Industri Tambang RI Penghancur Hutan Terbesar
2.000 Hektare Hutan di Aceh Rusak Parah Akibat Aktivitas Tambang Emas Ilegal

"Untuk kegiatan RHL tahun 2021, target penanaman seluas 48.875 hektare dan target pemeliharaan seluas 215.950 hektare," kata Siti beberapa waktu lalu.

Saat itu, ia mengatakan pihaknya telah menyiapkan bibit sebanyak 136 juta batang dari 57 unit Persemaian Permanen, 973 unit Kebun Bibit Rakyat (KBR), dan 135 unit Kebun Bibit Desa (KBD).

Video Terkait