Ilmuwan Temukan Mikroplastik pada Kotoran Satwa Dilindungi di Hutan Taiwan

Ilustrasi beruang (Wikimedia)

Editor: Putri - Selasa, 23 Agustus 2022 | 21:15 WIB

Sariagri - Para ilmuwan menemukan mikroplastik dalam kotoran beruang dan rusa yang hidup di hutan Taiwan. Penemuan itu menyoroti bagaimana serpihan dan partikel kecil membanjiri alam dan dicerna oleh hewan, bahkan manusia. 

Mengutip Bloomberg, Selasa (23/8/2022), mikropastik itu ditemukan pada kotoran dari satwa liar yang dilindungi di Taiwan, termasuk beruang hitam, rusa, berang-berang, dan macan tutul. Penelitian dilakukan pada 2021 dan 2022 oleh Greenpeace Asia Timur bersama dengan pakar lokal.

Beberapa tingkat konsentrasi mikroplastik yang ditemukan bahkan lebih tinggi daripada yang ada pada kotoran sapi yang pernah diteliti. Mikroplastik adalah potongan-potongan plastik yang panjangnya kurang dari 5 mm berasal dari berbagai sumber termasuk dari plastik besar yang terdegradasi menjadi potongan-potongan kecil, menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS.

Setiap tahun, dunia menghasilkan lebih dari 400 juta ton sampah plastik, menurut PBB. Mikroplastik sekarang ada di mana-mana dan dapat ditemukan pada hewan laut dan air minum. Para ilmuwan mengatakan tahun ini mereka mendeteksi mikroplastik dalam darah manusia untuk pertama kalinya.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan tidak ada informasi yang cukup untuk menarik kesimpulan tegas tentang betapa beracunnya mikroplastik bagi manusia. Oleh sebab itu diperlukan lebih banyak penelitian.

Greenpeace mengatakan 604 potongan mikroplastik diidentifikasi dalam sampel kotoran dari lima spesies hewan selama penelitian. Kemungkinan mikroplastik dapat dilacak kembali di wadah dan paket makanan serta minuman yang dibuang, kata Greenpeace.

Baca Juga: Ilmuwan Temukan Mikroplastik pada Kotoran Satwa Dilindungi di Hutan Taiwan
Peneliti di Inggris Temukan Banyak Sampah Plastik pada Mamalia Darat

Namun pejalan kaki di taman nasional mungkin bukan satu-satunya sumber mikroplastik. Hal tersebut dikarenakan mikroplastik dari daerah perkotaan dapat menempuh jarak ratusan kilometer melalui atmosfer yang didorong oleh arus udara.

Greenpeace mengatakan bahwa pemerintah Taiwan harus menghapus kemasan plastik sekali pakai di sekitar taman nasional. Selain itu, secara rutin memantau tingkat polusi plastik di habitat satwa liar.

Video Terkait