KLHK Gagalkan Penyelundupan 4.228 Ekor Burung Dilindungi

KLHK gagalkan penyelundupan 4.228 ekor burung dilindungi. (Sariagri/Arief L)

Editor: M Kautsar - Jumat, 19 Agustus 2022 | 13:45 WIB

Sariagri - Tim Operasi Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabalnusra) menggagalkan penyelundupan ribuan ekor burung yang dilindungi undang-undang dari Kalimantan ke Pulau Jawa melalui pelabuhan Telaga Biru Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Jabalnusra, Taqiuddin menjelaskan pengungkapan kasus perdagangan satwa liar dilindungi ini berawal adanya informasi dari masyarakat terkait perdagangan satwa liar secara illegal di Wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Berdasarkan informasi tesebut, Balai Gakkum KLHK Wilayah Jabalnusra melakukan pendalaman dan menindaklanjuti dengan melakukan operasi.

Pada hari Senin (15/8/2022) sekitar pukul 09.15 WIB, tim operasi berhasil mengamankan 4.228 ekor satwa burung berbagai jenis dilindungi dan tidak dilindungi dalam kondisi hidup dan mati di rumah Sdr. AFI di RT/RW 006/003, Desa Ganting, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo.

“dari pemeriksaan Sodara AFI, diperoleh keterangan burung-burung tersebut rencananya akan didistribusikan ke penjual di beberapa daerah. Di antaranya Kediri dan Karanganyar, Jawa Tengah. Kegiatan ini dilakukan oleh Sodara AFI sejak awal 2022 lalu,” beber Taqiuddin kepada Sariagri, Kamis (18/8/2022).  

Selain mengamankan ribuan burung dan pemilik satwa inisial AFI, lanjutnya tim juga mengamankan tiga orang sopir berinisial AH, AF, RB serta serta empat unit mobil yang digunakan untuk mengangkut satwa burung tersebut.

“Dalam perkara ini Penyidik Balai Gakkum KLHK wilayah Jabalnusra telah menetapkan saudara AFI sebagai tersangka dan saat ini masih dilakukan pemeriksaan dan pengembangan untuk mengungkap keterlibatan pihak lain yang merupakan jaringan perdagangan tumbuhan satwa liar. Terhadap tersangka Sdr. AFI telah dilakukan penahanan di RUTAN Polda Jawa Timur,” sambung Taqiuddin.

Dari hasil identifikasi petugas, lanjutnya, jenis burung yang berhasil diamankan terdiri dari burung yang dilindungi dan burung yang tidak dilindungi. Burung yang dilindungi yaitu cica daun besar (Chloropsis sonnerati) 596 ekor, tiong emas (Gracula religiosa) 125 ekor, gelatik jawa (Lonchura oryzivora) 110 ekor, serindit melayu (Loriculus galgulus) 45 ekor, tangkar ongklet (Platylophus galericulatus) 31 ekor, cica daun kecil (Chloropsis cyanopogon) 6 ekor.

Sedangkan burung tidak dilindungi yaitu merbah belukar (Pycnonotus plumosus) 72 ekor, sikatan bakau (Cyornis rufigastra) 32 ekor, kucica hutan (Copsychus malabaricus) 31 ekor, kucica kampung (Copsychus saularis) 17 ekor, yuhina kalimantan (Staphida everetti) 11 ekor, burung-madu pengantin (Leptocoma sperata) 2.363 ekor, manyar jambul (Ploceus manyar) 785 ekor, dan kacembang gadung (Irena puella) 4 ekor. 

Taqiuddin mengatakan penanganan kasus ini menerapkan pendekatan multidoor, yaitu untuk burung-burung yang dilindungi Undang-Undang ditangani oleh Penyidik Balai Gakkum Jabalnusra dengan menerapkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990.

“Sedangkan untuk burung-burung yang tidak dilindungi ditangani oleh Penyidik Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya dengan menerapkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019,” jelasnya.

Penyidik Balai Gakkum KLHK Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara menjerat tersangka AFI dengan Pasal 40 ayat 2 jo. Pasal 21 ayat 2 huruf a Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman kurungan penjara paling lama 5 tahun dan denda maksimum Rp100.000.000.

Sementara itu, Plh BKSDA Jatim, Wiwied Widodo memapaparkan dampak dari pelaku penangkapan burung dilindungi undang-undang yang ada dialam dapat menyebabkan kerusakan hutan.

Baca Juga: KLHK Gagalkan Penyelundupan 4.228 Ekor Burung Dilindungi
BKSDA Aceh Selamatkan Seekor Harimau Aceh yang Terjerat Perangkap

Pelaku kerap membakar sarang burung dan vegetasi hutan sehingga banyak tanaman yang rusak serta populasi burung terancam punah.

“Modus pelaku ini, membakar sarang burung, sehingga ribuan burung beterbangan pindah ke tempat yang sudah diarahkan dengan jebakan jaring sangat besar. Hasilnya ribuan burung dengan mudah ditangkap dan diperjualbelikan secara ilegal,” tandas Wiwied Widodo. 

Video Terkait