Spesies Invasif Bantu Australia Selamatkan Buaya yang Hampir Punah

Ilustrasi buaya air asin. (Foto: Wikimedia Commons)

Editor: Putri - Selasa, 16 Agustus 2022 | 14:15 WIB

Sariagri - Sekumpulan babi liar turun ke tepi air untuk minum, merupakan pemandangan yang biasa di rawa-rawa dan lahan basah di Australia. Ketika babi berada pada kondisi paling rentan, buaya terbesar di dunia muncul dari kamuflasenya dan menerkamnya. 

"Buaya makan apa saja yang paling mudah dan babi liar adalah makanan yang sempurna," kata Mariana Campbell, seorang peneliti di Universitas Charles Darwin di Australia yang mempelajari buaya air asin di utara negara itu.

"Mereka pemburu yang sangat malas. Jika Anda buaya, apa yang paling mudah? Anda tinggal di dekat tepi sungai dan menunggu beberapa jam untuk babi? Atau Anda pergi berburu hiu, binatang yang bisa berenang lima kali lebih cepat daripada Anda?"

Mengutip The Straits Times, Selasa (16/8/2022), beberapa ilmuwan yakin bahwa hubungan buaya dan babi mungkin merupakan tanda bahwa babi liar, spesies invasif yang merusak sebagian besar alam liar Australia, akhirnya menemukan tandingannya.

Buaya air asin atau muara, hidup selama jutaan tahun di Australia. Babi liar tiba di Australia bersama pemukim Eropa pertama pada akhir abad ke-18.

Hewan buas ini merupakan predator puncak terbesar di Australia yang hampir punah pada awal 1970-an. Buaya jenis lainnya menyebar di hampir 40 persen dari daratan Australia dan perkiraan menunjukkan bahwa mungkin ada 24 juta buaya di negara ini.

Para ilmuwan menyalahkan babi liar dan spesies invasif lainnya atas hilangnya habitat buaya secara luas. Babi liar juga disalahkan atas status Australia yang memiliki tingkat kepunahan mamalia tertinggi di dunia.

Interaksi buaya air asin dan babi liar sama halnya dengan predator dan hama. Cerita rumit tentang apa yang terjadi ketika spesies non-asli mengambil alih suatu ekosistem.

Babi liar tersebut, di sisi lain, juga membantu memulihkan populasi buaya Australia. Campbell dan rekan-rekannya mempelajari isotop karbon dan nitrogen yang diambil dalam beberapa tahun terakhir dari sampel tulang buaya di Pelabuhan Darwin dan Taman Nasional Kakadu.

Mereka kemudian membandingkannya dengan sampel museum yang diambil dari seluruh Northern Territory Australia antara akhir 1960-an dan pertengahan 1980-an.

Analisis tulang mengungkapkan bahwa selama 50 tahun terakhir, babi liar menjadi sumber makanan utama buaya. Hal ini menandai perubahan mendasar dalam pola makan spesies pemangsa tertua di Australia dari spesies pemangsa air menjadi spesies terestrial.

"Kami berharap untuk melihat beberapa perbedaan dalam pola makan," kata Campbell. "Tapi kami kagum dengan perbedaan antara apa yang mereka makan saat itu dan apa yang mereka makan sekarang."

Baca Juga: Spesies Invasif Bantu Australia Selamatkan Buaya yang Hampir Punah
Tragis! Bocah Usia 7 Tahun di India Tewas Usai Ditelan Buaya

Kisah buaya air asin dan perubahan pola makan yang menentukan keberadaannya dimulai pada 1971. Saat itu Pemerintah Northern Territory melarang perburuan buaya. 

Menjelang akhir Perang Dunia II, ada sekitar 100.000 buaya air asin. Jumlahnya kemudian menyusut pada 1971 di mana buaya air asin hanya berjumlah 3.000 dan spesies itu dalam bahaya kepunahan.

Video Terkait